SINOPSIS BRIDE OF THE WATER GOD Episode 9 [Bagian 2]

14:56

= SELURUH GAMBAR DAN KONTEN BERSUMBER DARI tvN =

image

So-ah memuka pintu depan rumahnya, tepat ketika Ha-baek tengah mengambil koran di pintu gerbang.

“Ingin sarapan bersamaku?” tanya So-ah

image
image

Beberapa saat kemudian, kita melihat Ha-baek yang tengah duduk di meja makan dan dihadapannya telah tersaji sepiring nasi goreng omelet yang penataannya terkesan ‘acak-acakan’. Ditambah lagi, dapur So-ah yang terlihat begitu berantakan, bekas wajan dan bahan makanan berserakan dimana-mana.

“Apakah ini makanan yang layak konsumsi?” keluh Ha-baek

“Tentu saja..” ucap So-ah

image
image

Ha-baek mencobanya.. dan dengan jujur mengatakan “tidak enak”. So-ah mendesah kesal, kemudian mengeluh: “Tak bisakah kau mengatakan sesuatu yang bagus, meskipun kau tak menginginkannya..”

“Aku selalu berkata jujur..” bela Ha-baek

“Selalu jujur katamu?” tukas So-ah, yang kemudian menyatakan bahwa dirinya merupakan seorang psikiater yang dengan mudah bisa mengetahui ketika seseorang tengah berbohong.

“Bohong? Memangnya kapan aku pernah mengatkan kebohongan?” tanya Ha-baek

“Mengenai hukuman dosa yang dilakukan leluhurku.. aku tahu kalau kau tidak pernah menceritakan alasan yang sebenarnya. Kau malah menceritakan kisah wanita lain yang bernama ‘Shim’ itu, karena kau ingin menghindari fakta dan bertingkah seolah-olah semuanya tidak pernah terjadi..” ungkap So-ah yang seketika membuat HA-baek diam tak mampu berkomentar apapun

image

“Aih... pasti para-dewa sangat takut kepada leluhurku. Apakah kisahnya seerti dalam legenda ‘Raja Voldemort’..” canda So-ah.

Di pihak lain, Ha-baek maish saja terdiam. Hingga akhirnya So-ah menebak bahwasanya kejadian itu berkaitan dengan trauma Ha-baek.

“Ceritakan saja padaku, aku ini hebat dalam menangani PTSD (Post Traumatic Syndrome)” ujar So-ah

Ha-baek mengalihkan pembicaraan dengan bertanya: “Hari ini, mau pulang bareng denganku?”

“Ini hari liburku.. aku tak akan berangkat ke klinik. Bagaimana kalau kita melakukan hal yang lain..” ajak So-ah

image
image
image

Mereka, bekerjasama membersihkan seisi rumah dan juga halaman. Dari mulai membersihkan debu di sela-sela rumah, mengganti lampu bohlam, mengepel lantai hingga merapikan halaman.

image
image
image

Sekilas mereka seperti anak kecil, yang kegirangan hanya karena bermain-main air. Mereka tertawa lepas sembari menyiram tubuh satu sama-lain..

12_1

Merasa kelelahan, So-ah langsung berbaring dilantai. Ia-pun mengajak Ha-baek untuk berbaring juga disampingnya. Akan tetapi Ha-abek menolak melakukannya.

“Tubuhmu pasti kelelahan dan merebahkannya seperti ini terasa sangat nyaman..” ujar So-ah

“Tidak.. karena aku ini seorang pria..” tegas Ha-baek

“Memangnya kenapa kalau kamu itu seorang pria?” gumam So-ah

12_2

Tiba-tiba, Ha-baek berbaring disampingnya dan itu membuat So-ah sangat terkejut. Ia menjauh, tetapi Ha-baek terus bergeser mendekatinya.

12_3

“Kamu sendiri yang menyuruhku untuk berbaring..” gumam Ha-baek yang terus bergeser mengikuti So-ah hingga akhirnya mereka berada tepat disamping meja.

12_4

So-ah begitu gugup, ditambah lagi Ha-baek menaruh tangannya di meja, melewati tubuhnya yang mebuat badan mereka jadi sangat berdekatan.

12_5

HA-BAEK : “Kenapa kamu merayuku?”

SO-AH : “Kkk...kapan aku merayumu?”

HA-BAEK : “Semua pria itu seperti binatang.. aku mempelajarinya dari berita di koran dan juga di TV”

SO-AH : “Tetapi tidak berarti semua pria itu penjahat..”

HA-BAEK : “Aku menyebut pria seperti binatang bukannya peenjahat! Barusan kau menyuruhku untuk berbaring dan tadi malam, kau memelukku dari belakang.. Mulai dari sekarang, jangan coba-coba melakukan hal seperti itu kepada pria lain..”

12_6

“Kenapa dia jadi cerewet seperti seorang kakak?” gumam So-ah

12_7

“Aku ingin mandi air hangat..” pinta Ha-baek

12_8

Beberapa saat kemudian, hari telah berubah gelap dan mereka keluar dari sebuah sauna. Sembari berjalan pulang, so-ah mengeluhkan.. satu hari telah terlewati, akan tetapi mereka belum melakukan begitu banyak hal.

“Lah.. kita sudah membereskan rumah, makan dan juga pergi ke sauna. Memangnya di hari libur, biasanya kamu ngapain?” tanya Ha-baek

“Entahlah.. aku lupa biasanya aku melaukan apa..” jawab So-ah

“Kamu melupakannya, karena kamu tak pernah melakukan apapun..” ujar Ha-baek

12_10

Mereka berjalan melewati taman,tempat beberapa anak tengah brmain ayunan. So-ah dengan semangat berlari ke arah mereka kemudian mengajari caranya bermain ayunan, yaitu dengan meutarkan talinya kemudian membiarkan badannya berputar dengan sendiri.

12_11
12_12

Akan tetapi, malang sekali nasibnya.. karena badan So-ah malah terlempar jatuh dan itu membuat anak-anak mengangis ketakutan. So-ah merasa sangat malu.. beberapa saat, ia bahka tak mau bangkit.

“Jangan mendekat...aku bisa bangun sendiri..” ujar So-ah

12_13
12_14

Padahal Ha-baek tak ada niat untuk menolongnya. Ia malah berjalan begitu saja melewati So-ah sembari menggumam, mengatakan kalau tingkah So-ah membuatnya malu.

So-ah telah berdiri, ia tak menyangka kalau ternyata Ha-baek malah pergi duluan meninggalkannya, “TUNGGU AKU!!!” teriaknya

12_15

Tak jauh darisana, Hoo-ye dan Geol-rin memerhatikan mereka. Geol-rin meyakini bahwasanya So-ah merupakan seorang keturunan pelayann Dewa. Hoo-ye baru pertama kalinya, mendengar hal yang seperti itu, ia-pun bertanya apa yang telah dilakukan oleh leluhur So-ah?

“1200 tahun yang lalu... kudengar, leluhurnya telah melakukan dosa besar” ungkap Geol-rin

“Tapi yang membuat kesalahan ‘kan leluhurnya, mengapa keturunannya juga ikut menanggung akibatnya..” gumam Hoo-ye

12_16
12_17

Geol-rin berkomentar, kalau Dewa yang agung seperti Ha-baek tidak memerlukan seorang pelayan. Seharusnya, makhluk-makhluk seperti Hoo-ye yang memiliki pelayan seperti itu.

“Setidaknya, dia akan membuatmu tidak terlalu kesepian di dunia ini. Karena dia merupakan seorang pelayan Dewa, maka dia bisa memahami kondisimu.. di dunia ini, kamu memiliki alur kehidupan yang akan terus bergulir, dilahirkan, tumbuh dewa dan meninggal.. kurasa kamu tidak akan sanggup jika harus melewatinya seorang diri..” ungkap Geol-rin

12_18

Ha-baek dan So-ah berjalan melewati gang menuju rumah bersama-sama.. So-ah terus mengomeli tindakan Ha-baek yang meninggalkannya begitu saja.

“Kamu sendiri yang tidak membutuhkan bantuanku..” ujar Ha-baek

“Tapi kamu berjalan pergi, bahkan sebelum aku mengatakannya!” tukas So-ah

“Yang penting, aku melakukan apa yang kamu inginkan..” bela Ha-baek

12_20

Melihat tangan So-ah yang terluka, kemudian Ha-baek menyentuh luka tersebut dengan tangannya. Sejenak, ia terdiam sembari memejamkan matanya..

Namun ketika ia melepas tangannya, luka itu masih sama dan tidak menghilang: “Aishh.. kukira kekutanku akan kembali..”

“Kau sedang bercanda denganku..” keluh So-ah

12_23
12_25

Mereka berjalan melewati tembok dimana namanya masih terukir dengan jelas. So-ah hendak menghapusnya, dengan alasan kalau Ha-baek sebentar lagi akan pergi darisini.

Ha-baek melarangnya, ia berusaha keras menghalang-halangi So-ah. Namun So-ah tetap bersikeras untuk menghapusnya.. selanjutnya, mereka hanya bisa tertawa sembari tetap menghadang satu sama-lain...

12_26
12_27

Mereka memasuki rumah So-ah, dan So-ah mengatkan kalau dirinya tak memiliki air yang sangat disukai oleh Ha-baek.

“Kalau begitu, aku pulang saja..” ujar Ha-baek yang kemudian berjalan menaiki tangga.
“Mau kemana? Intu keluarnya disana..” ucap So-ah

“Tapi sebelumnya, aku melihat pintu dari kamarmu yang bisa menuju langsung ke kamarku..” keluh Ha-baek

“Ingat yaa, pintumu disana bukan disini..” ujar So-ah

“Dasar, menyebalkan..” gumam Ha-baek

12_28
12_29

Di lokasi syuting, Moo-ra merasa risih karea Bi-ryeom terus mengekorinya. Padahal ada Joo-dong yang seharusnya lebih ia khawatirkan.

“Tak perlu terlalu mengkhawatirkan dia ditempat yang aman. Sementara dirimu berada ditempat musuh, jadi sangat berbahaya..” ungkap Bi-ryeom

“Jangan membuat masalah dan pergilah!” pinta Moo-ra

“Kau tahu, semakin kau melindunginya malah membuatku semakin mengkhawatirkanmu!” ujar Bi-ryeom

“Kamu itu aneh!” keluh Moo-ra

12_30
12_31
12_32

Moo-ra melanjutkan syuting adegan romantis yang sebelumnya gagal karena aktornya tiba-tiba pingsan. Kali ini.. hal yang sama terjadi, aktor itu tiba-tiba merasa sesak hingga akhirnya pingan ‘lagi’

12_33

Moora sangat kesal, ia mengatakan kalau dirinya hanya akan melanjutkan pekerjaan ini apabila salah-satu diantara mereka dipecat. Tetai bebrap saat kemudian, Moo-ra menegaskan bahwa dirinya sendiri yang akan muncuk dari projek ini. ia bahkan bersedia membayar dendanya, berapapun itu!

12_34

Bi-ryeom hanya bisa tertawa karenanya.. ia menyarankan Mo-ra untuk berperan dalam film yang genre-nya seperti film ‘amazon’. Ia bisa menjadi Dewi Athena, Artemis atau juga Aphrodite.
“Sepetinya kau sangat cocok untuk memerankan karkater Athena (Dewa perang)..” canda Bi-ryeom

12_35
12_36

Mereka berpapasan dengan Hoo-ye, Bi-ryeom mengucapkan terimakasih karena sekarang mereka telah menemukan Joo-dong. Akan tetapi, melihat kondisi Joo-dong membuat Bi-ryeom yakin, bahwasanya hoo-ye telah melakukan sesuatu. Sekarang ia tak mengetahui seluruh kejadian yang sebenarnya, akan tetapi ia yakin bahwa Joo-dong akan segera pulih dan bisa menceritakannya

“Keahlianmu adalah merusak.. sementara kami para-dewa harus memperbaikinya. Itulah perbedaan yang jelas diantara kau dan kami..” ungkap Bi-ryeom

12_38a

Moo-ra menganggap Bi-ryeom adalah orang yang sangat aneh. Ia tak bisa memahami tingkahnya yang akhir-akhir ini terlihat sangat menyedihkan. Padahal Bi-ryeom sendiri yang meintanya untuk tidak terlihat menyedihkan.

“Kenapa kau bersikap seperti itu kepadanya? Bahkan Ha-baek tak melakukan apapun terhadapnya!” keluh Moo-ra

“Karena Ha-baek memang tidak pernah melakukan apapun! Sementara aku, telah dicap sebagai seorang pembuat onar!” tegas Bi-ryeom

12_38b
12_39

“Mengenai adegan ciuman itu.. kenapa kau tidak berlatih saja dulu..” ceteluk Bi-ryeom

Belum sempat Moo-ra mengatakan apapun, tiba-tiba Bi-ryeom mendapat telpon dari Jin-geon yang sekarang sudah berdiri didekatnya. Segera, Bi-ryeom turum dari mobil dan menyuruh Moo-ra untuk pergi duluan saja.

12_40

Sekretaris Min menemui Ho-ye, ia memberitahukan bawasanya sebentar lagi akan diadakan rapat direksi untuk membahas kelanjutan projek mereka. Akan tetapi, sebelumnya mereka perlu menyelesaikan urusan jual-beli tanah milik So-ah terlebih dahulu.

12_41
12_42

Hoo-ye membuka dokumennya, ia melihat seperti apa lahan milik So-ah. Ketika itu, barulah ia menyadari sesuatu.. ia-pun bergegas pergi menuju lahan tersebut.

12_43

Disaat yang bersamaan, Jin-geon memberitahu Bi-ryeom.. bahwasanya So-ah telah menjual lahan yang menjadi tempat portal menuju negeri para-dewa kepada Hoo-ye...

12_44

Hoo-ye sendiri telah tiba dilahan itu.. ia melihat situasi disekelilingnya dan menyadari bahwa disinilah tempat yang ia injak pertama-kali ketika turun ke bumi. Ia berjalan mengelilingi tempat itu, kemudian berjalan menaiki menara.

Tiba-tiba muncullah Bi-ryeom yang lansgung menonjok Hoo-ye. “Apa yang sedang kau rencanakan?” teriaknya

12_46
12_47

“Dari awal kau sudah mengetahui tempat ini, makanya kau sengaja mendekati So-ah!” tebak Bi-ryeom

“Tidak aku tidak mengetahui apapun!” ucap Hoo-ye

“Bohong!” teriak Bi-ryeom

“Aku tidak pernah berbohong! Aku hanya mengatakan yang sebenarnya!” tegas Hoo-ye

12_48

“Tadi kau bertanya apa yang aku rencanakan..  dan sebelumnya kau menyebutku sebagai perusak, sementara kalian-lah yang bertuga memperbaikinya. Apa yang akan kulakukan di lahan kalian ini,.. kukira kau bisa menebaknya sendiri...” ungkap Hoo-ye yang kemudian tersenyum dan mengakui bahwa dirinya memang telah melaukan ‘sesuatu’ terhadap Joo-dong

12_50

“Tapi apa gunanya aku mengakui hal ini kepadamu? Toh kalian para-dewa akan tetap menganggap diri kalian sebagai ‘penyelamat’. Tetapi lihatlah apa yang telah kalian lakukan kepadaku? Kalian inign membunuhku atau apa?!” tanya Hoo-ye yang kemudian berjalan pergi meninggalkan bi-ryeom

12_51
12_52

Bi-ryeom langsung menceritakan semua ini kepada Ha-baek. Akan teapi, Ha-baek sama-sekali tidak terlihat marah atu bahkan terkejut sedikitpun. Ia mengakui, bahwa dirinya sendiri yang telah membiarkan So-ah untuk menjual lahan itu..

“Portal itu tak akan menghilang, hanya karena pemiliknya yang berganti...” ucap Ha-baek

“Kau kira, portalnya tak akan menghilang?! Bagaimana mungkin kau sangat yakin dengan hal itu? Dia bisa mengubah lahan itu menjadi tempat yang dipenuhi oleh manusia.. hingga kita, para-dewa tak akan bisa mengunjungi dunia ini dengan mudah. Bayangkan kalau para-dewa tidak lagi mengunjungi tempat ini.. bukankah dunia manusia akan sirna?” papar Bi-ryeom

Ha-baek hanya diam, ia tak berkomentar apapun.. membuat Bi-ryeom merasa kesal hingga menyebut Ha-baek yang terlihat menyedihkan.

12_53

“Meskipun kau kehilangan keuatanmu, aku masih menghargai keberadaannmu! Meskipun tingkahku terbilang tidak dewasa dan kekanakan, tetapi aku tak pernah sekalipun melupakan identitasku sebagai seorang dewa. Ini bukan pertama kalinya kau memiliki perasaan (cinta?) terhadap manusia! Dan yang membuatku sangat kesal adalah karena selama ini, dirimu selalu bersikap seperti korban, dan itu membuatku merasa bersalah!  Semua itu sama menyebalkannya dengan fakta kalau kau bisa mendapatkan posisi Raja, bahkan tanpa melakukan apapun!” papar Bi-ryeom

12_54
12_55

Kali ini Ha-baek terlihat marah,.. tetapi tiba-tiba ponsel Bi-ryeom berdering. Ia menjawab telponnya kemudian kepada Ha-baek, ia mengatakan: “Pergi dan lihatlah apa yang sedang dilakukan oleh pelayanmu.. eh dia ‘kan wanitamu..”

12_56

Ternyata, saat ini So-ah tengah bertemu dengan Hoo-ye. Tentu saja, pertemuan mereka bertujuan untuk mendiskusikan urusan jual-beli yang kesannya masih terombang-ambing.

Hoo-ye bersedia mengembalikan lahan So-ah, asalkan ia mendapat alasan yang jelas, “Apakah kamu melakukan ini karena seseorang?” tanyanya

“Iya begitulah.. dia tidak melarangku, tetapi aku sendiri yang menginginkan hal ini karena aku merasa tidak enak kepadanya..” jawab So-ah

“Tak banyak orang yang menolak uang jutaan dolar, hanya karena merasa ‘tidak-enak’ semata..” celetuk Hoo-ye

12_57
12_58

Soo-ah menghela nafas dalam-dalam, kemudian mengatakan: “Seseorang yang ‘berlebih’ harus membantu orang yang ‘kekurangan’.. aku mempelajari hal itu dari ayahku..”

“Apa.. kah, orang itu orang itu adalah pria yang kulihat di resort waktu itu? Kalau memang iya, sepertinya dia sama-sekali tidak terlihat seperti orang yang kekurangan..” ucap Hoo-ye

“Sudah seharusnya, orang yang lebih kuat melindungi orang yang lemah.. Begitulah seharusnya dunia berjalan. Hanya karena seseorang memiliki lebih ‘banyak’, bukan berarti dia lebih ‘kuat’...” ungkap So-ah

“Jadi kau menganggap dirimu lebih kuat dibandingkan dia?” tanya Hoo-ye

“Kerugian yang kudapatkan setelah merelakan uang sebanyak itu... sangat kecil apabila disandingkan dengan kerugian yang dia dapatkan saat dia kehilangan tanah itu...” ungkap So-ah

12_58a

Disaat yang bersamaan, terlihat Ha-baek yang berdiri diluar dan memerhatikan mereka dari balik kaca..

12_60

“Apa karena dia adalah ‘angin itu’.. angin yang kau sebut bisa mengoyak hatimu, dan juga angin yang kau sebut telah berhenti berhembus..” tanya Hoo-ye

“Kurasa kita tidak perlu membicarakan hal itu. Aku tidak suka diinterogasi seperti ini..” keluh So-ah

“Aku tidak menginterogasimu.. aku hanya memeriksa saja... Lagipula, hal ini tidak berhubungan dengan tujuan pertemuan kita hari ini. Aku lupa kalau kau sangat perhatian dengan orang lain. Aku juga lupa kalau itu alasan dibalik kenapa aku tertarik padamu...” papar Hoo-ye

12_60a

So-ah terkejut dengan pengakuan itu.. ia tak bisa mengatakan apapun.. Namun Hoo-ye tetap telihat tenang, ia pamit pergi, tetapi sebelumnya ia mengatakan bahwa dirinya setuju dengan semua teori yang diucapkan oleh So-ah. Adapun satu hal yang ia tidak setujui adalah fakta kalau So-ah menganggap Ha-baek sebagai orang lemah yang memerlukan bantuannya..

12_62

12_63

Ketika berjalan keluar, Hoo-ye berpapasan dengan Ha-baek. Ia mengatakan bahwa dirinya bisa membaca perasaan seseorang, “Itu memang tak bekerja padamu, tapi yang kau rasakan sekarang... sangat jelas, kalau kau merasa marah, hina, dan juga bingung..”

“Tak akan ada yang berubah, meskipun lahan tempat portal itu menjadi milikmu..” ucap Ha-baek

12_63a

“Aku tak tertarik pada portal itu. Saat ini, Aku hanya tertarik pada Yoon So Ah. Dia akan menjadi hal yang paling aku inginkan... untuk pertama kalinya semenjak aku hidup di dunia ini. Aku akan memenangkan hatinya dengan cara yang tepat. Aku ingin berterima kasih padamu karena sudah membuatku menyadarinya...” papar Hoo-ye

12_64

“Dia merupakan seorang pelayan dewa!” tegas Ha-baek

“Memangnya kenapa? Ini dunia manusia dan inilah dimana aku berada. Kau akan kembali ke asalmu. Yoon So Ah menganggapmu sebagai angin lalu. Bahkan, dia bilang kalau anginnya sudah berhenti berhembus. Temanmu mungkin berpikir aku akan... memporak-porandakan Alam Para Dewa. Jadi, tolong sampaikan hal ini padanya. Aku benar-benar tak tertarik padamu dan duniamu. Jadi, pergilah dan jangan cemaskan apapun...” papar Hoo-ye yang kemudian berjalan pergi

12_67

Keluar dari restoran itu, So-ah langsung menelpon Ha-baek. Tetapi.. butuh waktu beberapa saat hingga Ha-baek mengangkat telponnya. Bahkan ketika Ha-baek tak banyak berbicara, ia hany amenjawab pertanyaan So-ah dan menyuruhnya untuk terus berbicara. So-ah menceritakan kalau dirinya baru saja melakukan sesuatu untuk Ha-baek, teapi ia tak bisa menceritakannya sekarang.

12_68
12_69

“Kamu sedang diluar? Bagaimana kalau kita pulang bareng? Ah tidak.. bagaimana kalau kita makan malam bersama saja? Kamu dimana? Aku akan menemuimu..” ucap So-ah

12_70
12_71

So-ah menunggu diteman tempatnya pertama kali bertemu dengan Ha-baek.. tak lama kemudian, Ha-baek datang dan melihatnya dengan tatapan yang sangat serius.

“Apa kau.. menjual tanah itu? Apa kau menjualnya pada pemilik hotel itu?” tanya Ha-baek

“Iya, tapi-----”

“Aku tahu. Aku menyuruhmu melakukan apapun yang kau inginkan. Tapi kau tak bisa menjual tanah itu padanya. Aku takkan mengizinkannya!” ujar Ha-baek

12_71a

“Itukah sebabnya kau marah seharian ini? Memang benar aku menjual tanah itu padanya, tapi aku menyuruh dia untuk mengembalikannya. Aku juga merasa tak nyaman. Aku merasa bersalah meskipun aku tak seharusnya begitu. Aku berjalan di atas cangkang telur rapuh meskipun aku seharusnya tak melakukannya. Aku tak tahu kenapa aku merasa seperti itu saat ingin menjual tanah milikku sendiri. Aku tak tahu kenapa aku begitu... saat kau menyuruhku melakukan apa saja yang kuinginkan. Aku juga tak tahu kenapa aku merasa seperti itu saat kau akan pergi. Namun aku memintanya membatalkan kontraknya demi dirimu. Entah apa alasannya, tapi aku melakukanya.” papar So-ah dengan mata yang berkaca-kaca dan juga suara yang bergetar

12_74

Akan tetapi, Ha-baek tetap bersikap datar dan malah mengatakan: “Saat kau menjualnya dan meminta tanah itu dikembalikan... semua itu tidaklah penting.”

“Tidak penting? Lalu apa yang kulakukan selama ini... sama sekali tak penting?”

“Apa yang kaulakukan padanya... dan apa yang ingin kaulakukan padanya sama sekali tak penting bagiku...”

“Apa katamu?”

“Iya kau memang benar.. Aku akan segera pergi. Dan tempatmu adalah di dunia ini. Jadi kita tak perlu membuang-buang waktu demi menyenangkan hati satu sama lain. Kita tak boleh menganggap sayap yang palsu... ...adalah sayap yang bisa kita gunakan untuk terbang...”

12_77
12_79

Melihat Ha-baek yang berjalan pergi meninggalkannya, So-ah langsung menangis kemudian mengatakan: “Seseorang yang tersenyum... saat kesulitan adalah pemenangnya. Seseorang yang menahannya adalah orang yang belum dewasa. Seseorang yang menangis... adalah pecundang. Dan kurasa aku adalah pecundang. Aku menjadi pecundang... karena dirimu. Kau adalah Dewa yang sangat jahat! Aku mencoba yang terbaik untuk memiliki hati yang kuat. Setidaknya biarkan aku menjadi seseorang yang belum dewasa apabila aku belum bisa menjadi pemenang. Karena aku sendirian, aku harus kuat... untuk mencegah diriku... menangis seperti orang-orang berpikiran sempit. Kupikir aku jadi pemenang... setelah bertemu denganmu. Namun aku paham sekarang... kalau aku hanyalah seorang pecundang...”

12_80

Ha-baek berbalik kearah So-ah, “Aku akan pergi..” ucapnya sembari berjalan menghampiri So-ah. Kemudian, ia mengenggam tangan So-ah dan mencium bibirnya..

12_82
12_83

“Aku harus pergi... dan aku akan segera pergi!” ucapnya yang kemudian menicum So-ah ‘lagi’

12_85

===========
::: NOTES :::

Kelihatannya.. So-ah mencoba untuk menjauhi Ha-baek.. dia sendiri udah sadar tentang perasaannya. Disaat dia menolak uluran tangan Ha-baek, bearti dia juga menolak untuk melanjutkan perasaannya. Tapi apa boleh buat, cinta-nya sudah berkembang cukup besar dan tak bisa dihindari begitu saja..

Mengenai Hoo-ye, sejauh ini aku yakin kalau dia bukanlah ‘monster’ jahat yang menggunakan kekuatannya secara membabi-buta. Dia berusaha keras untuk hidup sama seperti manusia. Kalaupun dia melukai Joo-dong, itu karena situasi mengerikan yang dihadapinya saat itu, dia tertekan, dia ketakutan dan dia tak mengenal siapapun didunia ini.

Setuju banget ketika dia bilang kalau para-dewa menyebut diri mereka sebagai ‘penyelamat’. Tapi nyatanya, Hoo-ye dikurung didalam gua selama lebih dari 3000 tahun. So.. itu yang namanya Pelindung? Penyelamat?

Moo-ra dan Bi-ryeom sama-sama menyadari perasaan (cinta) Ha-baek terhadap So-ah. Moo-ra menentang hal itu karena dia tak mau kejadian lama terulang kembali, sementara Bi-ryeom tidak melarangnya tetapi ia meminta Ha-baek untuk tidak mengulangi kesalahannya.

Apa yang sebenarnya terjadi 1200 tahun yang lalu? Kisah pengkhianatan manusia dan juga kisah mengenai kutukan terhadap leluhur So-ah berlangusng di waktu itu. Apakah mereka saling-berkaitan? Selama ini mungkin kita menduga kalau leluhur So-ah yang dikutuk, kemungkinan dari pihak lelaki.. tapi ada kemungkinan juga dia merupakan seorang perempuan (?)

Dalam hidup, seringkali kita mengeluhkan sifat si ‘A’ yang telalu cerewet dan bla.. bla.. bla.. Tapi nyatanya, ketika si A pergi, kita mulai merasa sedih dan merindukannya. Itusih fakta, dan semua orang pasti kayak begitu..

So-ah tak mengatakannya secara pasti, akan tetapi dari sikapnya.. kita pasti sadar, kalau So-ah enggak mau ditinggal temen-temennya.

So-ah terbiasa hidup sendiri, tetapi setelah kemunculan Ha-baek, serasa ada warna baru dihidupnya. Kertas yang awalnya putih sekarang udah berwarna, dan akan sangat sulit, bahkan mustahil kalau kertas itu bisa kembali menjadi putih polos. Kalaupun Ha-baek pergi, pasti segala hal tentangnya masih terinagt didalam hati dan juga pikiran So-ah. Inituh teori mendasar dalam kisah drama percintaan.. *di kehidupan nyata juga sihhh

Dan agak bingung sama pendapat Bi-ryeom yang bilang kalau dunia manusia akan hilang kalau dewa tidak lagi datang kesana. Bukannya kebalik yaa? Waktu itu, Imam-besar bilangnya kalau Dewa dianggap mati, jika manusia tidak mengingatnya..

Bagaimanapun juga, dua makhluk ini saling berkaitan satu sama-lain. Dewa ada karena manusia meyakininya dan manusia ada karena dewa melindunginya *inimah teori dari drama, bukan teori di dunia nyata (Don’t take it serious)


||=========||||=========||||=========||||=========||

Untuk UPDATE Sinopsis, serta berita terkait drama dan film bisa add Akun Official LINE My-Eternal Story : @azk6919i

Tambah Teman

You Might Also Like

2 komentar

  1. jadi karakter hooye dalam drama ini berbeda dengan manhwa nya? semua karakter berbeda serta ceritanya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku sendiri enggak baca manhwa-nya, tapi kata orang-orang sih ceritanya memang beda. Karena disana, So-ah yang pindah ke negara air, sementara di dramanya malah Ha-baek yang turun ke bumi..

      Delete

Don't forget to tell us what's on your mind ❤❤❤