SINOPSIS BRIDE OF THE WATER GOD Episode 15 [Bagian 1]

17:24

= SELURUH GAMBAR DAN KONTEN BERSUMBER DARI tvN =

image

Suasana malam itu terasa begitu romantis.. akan tetapi, So-ah tertawa sendiri, menyadari bahwa khayalnya malah tertuju pada kejadian bertahun-tahun lalu ketika ia datang ke tempat ini bersama dengan ayah-bundanya.
01_1

Kala itu, So-ah kecil berada ditengah perdebatan hebat diantara ayah-bundanya. Sang ibunda, terus mengeluh tentang ini dan itu.. sementara, ayahnya malah diam saja, tak mau membela diri ataupun menyela perkataan dari ibu.

So-ah tak bisa melerai mereka.. dihadapannya terhidang mie seafood, ia-pun asyik sendiri menghitung jumlah remis yang ada di mangkoknya. “Ayah.. ada 12 remis.. bukankah ini sangat banyak..”, ingin sekali, So-ah mengatakan kalimat itu kepada sang ayah. Akan tetapi, ibunya tak berhenti berbicara hingga membuatnya tak memiliki kesempatan untuk mengatakan apapun.

01_2
01_3

“Menurutmu, apa hal yang dianggap paling penting oleh ayahku?” tanya So-ah yang seketika membuat Ha-baek teringat kembali.. momen ketika So-ah menangis dan manantangnya untuk megabulkan permintaan So-ah yang ingin dipertemukan kembali dengan ayahnya.

01_4

“Pernahkah kamu mencoba untuk mencarinya?” tanya Ha-baek

“Belum pernah.... bagaimana jadinya kalau selama ini, ternyata dia berada di Korea tetapi tak pernah mengunjungi kami? Lantas apa yang harus kulakukan padanya..” jawab So-ah

“Bertemu dengan ayahmu dan mengatakan segala hal yang ingin kamu katakan padanya.. apakah kamu benar-benar menginginkan hal tersebut?” tanya Ha-baek

“Kurasa iya..” jawa So-ah

01_5
01_6

Mereka pulang berdampingan.. tiba-tiba So-ah menghentikan langkahnya, hingga membuat Ha-baek bertanya: “Kenapa?”

“Tak apa..” jawab So-ah sembari tersenyum bahagia. Ia kemudian berjalan kesamping Ha-baek dan mereka bergandengan tangan.

“Tahukah kamu.. alasan kenapa orang-orang ingin menikah? Itu karena.. mereka tak ingin berpisah setelah menghabiskan waktu bersama sepanjang hari. Syukurlah.. karena kita tinggal bersama kita tak perlu berpisah... Apakah ada yang namanya pernikahan di dunia para-dewa?

01_7

HA-BAEK : “Bisa dibilang ada.. dan juga bisa disebut tiada..”

SO-AH : “Maksudmu?”

HA-BAEK : “Kamu bisa menikah jika kamu meginginkannya, tapi disana pernikahan itu bukanlah sesuatu yang istimewa dan tidak memiliki kekuatan mengikat antara satu-sama-lain”

SO-AH : “Apa.. Maa.. maksudmu, meskipun telah menikah, kalian dibebaskan untuk berselingkuh jika kalian meginginkannya?”

HA-BAEK : “Yap.. sangat bebas....”

01_8
02_1

So-ah seketika berjalan lebih cepat untuk memasuki rumahnya, “Pantas saja aku tak bisa menemukan siapa ibunda dari Putri Yunhwa” rutuknya

“Siapa Putri Yunhwa?” tanya Ha-baek

“Dia anakmu, Ibunya Jumong dan neneknya Yuri!”ungkap So-ah

“Hey-aa.. aku tak pernah menikah!” tegas Ha-baek

02_2

Di dapur, So-ah hanya diam dengan menunjukkan raut wajahnya yang terlihat ketus. Tiba-tiba Ha-baek menghampirinya, “Kamu marah?” godanya yang kemudian meminta dibawakan segelas air mineral.

02_4

“Hanya karena kalian berasal dari alam.. apakah peraturannya harus seperti di ‘kerajaan hewan’?!.... Ngomong-ngomong, apakah disana berlaku yang namanya poligami?” tanya So-ah

“Bagaimana kamu tahu itu? Kami para dewa dan dewi tidak menua ataupun meninggal, jadi mana-mungkin kami harus setia hanya kepada satu orang saja?” ungkap Ha-baek

“Wahh--- Katakan padaku, sudah berapa kali kamu menikah sebelumnya?” gertak So-ah

“Aku tak pernah menikah sekalipun dan dengan siapapun!” tegas Ha-baek

“Lalu... bagaimana mungkin ada Putri Yunhwa?!” tukas So-ah

“Wahh.. dasar perempuan ini. berhentilah menanyakan hal itu!!” keluh Ha-baek

02_5

Ha-baek terus dan terus menghabiskan kemudian meminta So-ah untuk mengambilkan segelas air lagi untuknya. Hal itu dilakukannya berulang-kali, hingga tak terasa sudah lebih dari 2 jam berlalu dengan kegiatannya yang itu-itu saja.

02_6
02_7

“Hey, kamu fikir apa yang sedang kamu lakukan saat ini?!” runtuk So-ah

“Aku tak ingin tidur..” ujar Ha-baek

“Hah?! Ka.. ka.. kalau kamu tak ingin tidur, terus mau ngapain?” tanya So-ah dengan tergagap

“Soo-ri bekerja sepanjang malam, tapi hanya ‘malam ini’...” ungkap Ha-baek

“Te..terus.. ke. Kenapa emangnya?” tanya Sa-ah

03_1

“Maka dari itu, aku ingin....” ucap Ha-baek sembari mendekatkan dirinya pada So-ah, yang seketika membuat So-ah terlihat begitu gugup. Namun nyatanya, Ha-baek hendak mengambil remote di meja, “... aku ingin menonton TV bersama denganmu..” lanjutnya

03_3
03_4

“Duduklah...” pinta Ha-baek, yang kemudian sengaja menepuk-nepuk pahanya, sambil berkata “Yoon So-ah, berbaringlah disini..”

Meskipun sempat keheranan, pada akhirnya So-ah melakukannya.. ia berbaring dengan nyaman diatas paha Ha-baek, kemudian bertanya: “Apa yang membuatmu bersikap seperti ini?”

“Aku membaca buku diary-mu..” jawab Ha-baek yang seketika membua So-ah terperanjat kaget, “Mana boleh kamu memcaba diary orang seenaknya ?!”

“Kukira, kamu menulis itu memang untukku. Aku membaca puisi yang kamu tulis 20 tahun lalu.. yang judulnya ‘pangkuan ayah’...”

..........
Pangkuan ayah adalah milikku,... Yoo Sang-yoo, pergilah yang jauh!
Pangkuan ayah adalah milikku,... Yoo Sang-yoo, terkutuklah kamu!
.........

03_5
03_6

“Kamu sebut tulisan itu sebagai sebuah puisi? Katamu kamu hebat mengarang puisi ketika kecil..” ejek Ha-baek

So-ah bergegas mengalihkan topik pembicaraan dengan membahas program TV memasak favoritnya, “Kalau saja aku memiliki kemampuan sepertimu, aku akan bertanggung-jawab dalam hal masak-memasak setidaknya hingga saatnya aku pergi----”

Mendengar kata  ‘pergi’, seketika membuat Ha-baek dan So-ah terdiam.. hingga beberapa saat kemudian, So-ah memecah keheningan, dengan bertanya: “Kapan kamu akan pulang?”

“Sebuah pesan akan tiba--” ungkap Ha-baek

“Bisa saja besok, ‘kan?... Hmm, hubungan kita terbatas oleh oleh waktu. Dulu ketika aku masih menjadi dokter magang, aku dipertemukan dengan pasien penyakit terminal beserta keluarganya. Untuk beberapa alasan, aku merasa iba.. aku tak memahami betul perasaan mereka, tetapi aku harus menenangkan mereka.. bukankah lebih baik jika aku menangis bersama mereka? Tetapi nyatanya, aku malah mengungkapkan kalimat-kalimat yang aku sendiri tak bisa mempertanggungjawabkan-nya.. Tetapi, satu hal yang bisa kupelajari dari mereka, adalah bagaimana dan seperti apa reaksi mereka sebelum dan setelah melewati yang namanya sebuah perpisahan. Mereka akan menemukan alasan mengapa mereka mesti berpisah, dan pada akhirnya mereka bisa menerima perpisahan itu...” papar So-ah

03_7

Sejenak.. suasana kembali hening.. Hingga So-ah membuka pembicaraan dengan bertanya: “Kamu? Bagaimana caramu melewati perpisahan ini? Setidaknya, aku hanya harus melewati 40 hingga 50 tahun tersisa.. tapi hidupmu tak akan pernah berakhir. Bolehkah aku menjadi manusia serakah? Bolehkah aku memintamu untuk mengingatku selama yang kamu bisa..?” pintanya

Alih-alih memberikan jawaban lewat kata-kata, Ha-baek malah memberikan kecupan manis untuk So-ah----

03_8

Esok pagi... ketika terbangun, So-ah terbaring di karpet tengah rumah dan ada satu bantal disampingnya, yang menandakan bahwa sepanjang malam Ha-baek telah menemaninya, berada didekatanya..

04_1
04_2

Terdengar jelas, suara seseorang yang tengah memasak di dapur.. ketika dihampiri, ternyata oang itu adalah Ha-baek. So-ah tertawa kecil kemudian memanggilnya, dan bertanya “Lagi apa?”

“Kamu sudah bangun? Tadi aku bangun pagi, dan karena aku tak memiliki pekerjaan apapun aku menonton acara masak favoritmu--”

“Terus?.. memangnya kenapa? Kamu sengaja menyiapkan sarapan itu untukku? Ahh... akhirnya, aku menemukan pria yang memasak sarapan untukku..”

“Aku memasak karena aku kelaparan...”

“Oh gitu yaa?? Baguslah, karena sebenarnya aku ingin tidur lagi. Lagipula, aku bukan tipe orang yang terbiasa untuk makan sarapan..”

04_3
04_6

So-ah berjalan pergi, tetapi Ha-baek berteriak: “Duduklah..! Ayo cepat duduk!”

“Baiklah.. setidaknya aku harus cuci-muka dulu, untuk menghargari makananmu itu..” ujar So-ah

04_7

Didalam kamar mandi, So-ah melihat cermin.. ia tersenyum sendiri sembari mengatakan: “Aih.. di sangat lucu tapi aku tak bisa mengatakan ini kepadanya... Haruskah aku mencoba mengatakannya? Bagaimana kalu tiba-tiba dia berubah menjadi makhluk lain.. hehehehe”

04_8
05_1

Ketika kembali ke meja makan, sudah terhidang begitu banyak lauk pendamping nasi, dan ini membuat So-ah menggerutu, menanyakan “Siapa yang akan menghabiskan semua ini..?”

“Jangan mengatakan apapun, cukup ucapkanlah kalau kamu merasa bahagia--“

Mereka duduk dikursinya masing-masing, So-ah tersenyum memerhatikan semua makan itu, itu berkata: “Jadi, seperti inikah rasanya ketika ada seseorang yang memasak untukmu..”

Ha-baek menaruh sendok ke tangan So-ah kemudian menyuruhnya untuk segera makan.. tapi tiba-tiba, bel rumah berbunyi...

05_2
05_3

“Aku sudah mengunci pintunya, tetapi aku tidak menumukan pot dimanapun..” ucap Hoo-ye sembari tersenyum dan mengacungkan kunci klinik dihadapan So-ah.

Karena Hoo-ye datang sebagai tamu, rasanya tidak enak jika So-ah tak mengajaknya masuk terlebih dahulu. Tetapi.. melihat keberadaan Hoo-ye, tentu membuat Ha-baek agak ‘cemburu’.

05_4
05_5

Hoo-ye menjelaskan tujuannya datang kemari, “Aku tahu bahwa kamu (So-ah) tak akan datang ke klinik untuk beberapa saat kedepan. Jadi, pilihannya.. antara aku mengantarkan kunci ini kepadamu secara langsung ataukah aku memintamu menemuiku untuk mengambil kunci itu..”

“Kalau begitu, apakah anda ingin duduk sebentar untuk sekedar minum teh disini?” ucap So-ah

“Terlalu pagi untuk minum teh..” tukas Ha-baek

“Tak ada peraturan yang seperti itu...” ujar Hoo-ye

05_6

“Kalau dirumahku ada! Kita tidak minum teh di pagi hari, tetapi kita makan sarapan. Jika kau belum sarapan, maka kau bisa bergabung dengan kami..” papar Ha-baek

“Tapi Shin-daepyo sangat sibuk---”

“Tidak.. aku sama sekali tidak sibuk saat ini...”

06_1
06_2
06_3

Hoo-ye takjub melihat seluruh makanan yang terhidang di eja makan, “Wah.. Yoon So-ah, kamu sangat pandai memask ternyata--”

“Bukan dia, tai aku yang memasak semua ini! Perempuan ini bahkan tak bisa melakukan apapun?! Perlu kau ketahui, bahwa dia sangatlah buruk dalam hal memasak.. Dia bisa tidur dimanapun dan kapanpun. Maka dari itu, aku harus kerepotan menggendongnya ke kasur SETIAP MALAM, dia itu sangat merepotkan. Bahkan, dia tak pernah mau menyalakan lampu di depan pintu,sehingga harus aku yang melakukannya. Juga.. dia tak pernah mau bersih-bersih, makanya akulah yang memberihkan seluruh tempat ini untuknya... Aku ini, mandi air hangat setiap pagi..  tapi dia selalu merasa malu, ketika melihatku ‘telanjang’..” papar Ha-baek

“Heh! Ngomong apaan kamu!??” tukas So-ah

“Apa perkataanku ini salah? Bukanlah kamu memang seperti itu?” goda Ha-baek

“Ayolah.. kumohon berhenti...” pinta So-ah

06_4

Hoo-ye hanya diam, mendengarkan semua omongan Ha-baek.. hingga kemudian, ia tersenyum dan mengatakan: “Karena tinggal bersama, kalian tahu banyak hal tentang satu sama-lain yaa..”

Tak mau kalah, ia-pun mengungkapkan jati dirinya sebagai pemilik bangunan klinik So-ah yang baru.. dan setelah mendengar itu, seketika So-ah merasa begitu terkejut sekaligus berterimakasih, “Shin daepyo-nim, aku berhutang banyak kepadamu..”

“Tenanglah.. aku membeli bangunan itu, karena kurasa Tuan Shin telah menjadi orang yang terlalu serakah. Pokoknya.. aku berjanji, untuk menjadi pemilik bangunan yang BAIK!”

“Sekarang saja, anda sudah menjadi pemilik-bangunan yang sangatttt baik...” puji So-ah

Melihat ekspresi So-ah yang girangnya bukan main, membuat Ha-baek merasa kesal, “Aku ini RAJA! Aku adalah seorang RAJA” teriaknya

06_5
06_6
06_7

Beberapa saat berlalu, So-ah tengah sibuk mencuci piring.... sementara Hoo-ye menunggu di ruang tengah. Tak sengaja ia melihat foto So-ah bersama dengan Yeom-mi yang tersimpan rapi didalam bingkai yang ditaruh di meja....

Entah apa kaitannya, tetapi Hoo-ye malah teringat suara yang didengarnya malam itu.. suara yang mengatakan hal yang sama persis dengan apa yang dikatakan oleh So-ah kepadanya, “Yoon So Ah-ssi.. apakah anda yakin, kalau kita tidak ernah bertemu sebelumnya?”

“Seingatku,.. kita memang tak pernah bertemu sebelumnya..”

“Tapi, mengapa aku terus saja-----“

07_1

Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Hoo-ye malah dimarahi Ha-baek yang mengiranya tengah mencuri-curi kesempatan untuk ‘menggoda’ So-ah. Selanjutnya, Ha-baek meminta Hoo-ye untuk duduk di sofa, kemudian minum teh dengannya: “Karena dirumahku.. kita harus minum teh setelah makan..” ujarnya yang kemudian berteriak, menyuruh So-ah menyiapkan minuman teh-nya.

07_3
07_4
07_5

Menggerutu dan menghela nafas ‘kesal’.. haya hal kecil itulah yang bisa dilakukan So-ah, ketika ia selalu disuruh ini dan itu oleh Ha-baek.. setelah membawa minuman itu diatas baki, sejenak So-ah terdiam, hanya untuk memerhatikan Ha-baek dan Hoo-ye, “Hfftt.. pemandangan yang sangat aneh.. yang satu dewa air yang akan menjadi dewanya para-dewa, yang satunya lagi manusia setengah dewa..” gumamnya pelan

07_6

Setelah menerima segelas miuman teh dari So-ah, Ha-baek melanjutkan tingkah ‘sombong’-nya. Dihadapan Hoo-ye, ia sengaja menceritakan perihal mug ‘couple’ yang dibelinya, dari uang hasilnya bekerja paruh-waktu..

“Ganti gelasnya.. aku ingin menggunakan gelasku sendiri..” pinta Ha-baek

So-ah mengernyit heran, kali ini.. ia tak mau mengabulkan permintaan Ha-baek, “Minum saja dari gelas yang itu..”

“Baiklah kalau memang itu yang kamu inginkan...” ucap Ha-baek

07_7
08_1

So-ah meninggalkan mereka berdua.. dan saat itulah, adu pamer ‘kehebatan’ diantara mereka malah makin menjadi-jadi. Ketika Ha-baek mebanggakan dirinya sebagai seorang RAJA, Hoo-ye memiliki segalanya yang lebih berguna di dunia manusia.. ia ahlinya menunggu, ia memiliki banyak uang dan yang paling penting adalah ia merupakan pemilik-bangunan dimana klinik So-ah berada.

“Disini, mana yang lebih berkuasa? Uang atau gelar Raja-mu itu?..”

08_2
08_3
08_4

Ketika hendak pulang, Hoo-ye mengingatkan So-ah mengenai jadwal kerjanya di perkebunan. Meskipun mereka berteman, tetapi janji tetaplah sebuah janji.. So-ah faham betul akan hal tersebut, ia-pun setuju untuk pergi kesana nanti siang.

“Kamu fikir kamu mau pergi kemana ‘hah!? Aku tak mengerti kalian membicarakan apa, tetapi aku tak mengizinkanmu pergi kemanapun!” tukas Ha-baek

Hoo-ye kemudian menjelaskan perjanjian diantaranya dengan So-ah.. bagaimana So-ah diharuskan membayar denda karena melanggar kontrak jual-beli lahan diantara mereka,

08_5

“Sampai ketemu nanti siang, Yoon So Ah-ssi....” ucap Hoo-ye yag kemudian berjalan pergi meninggalkan mereka

08_6
08_7

Segera, Ha-baek menelpon Moo-ra, dan langsung meminta uang kepadanya, “So-ah harus membayar denda karena tidak jadi menjual lahan itu. Dia berhutang, karena kita---“

Belum sempat mengutarakan kalimatnya hingga beres, Moo-ra malah menutup telponnya, pertanda bahwa ia tak akan memberikan uang sepeserpun kepada Ha-baek...

08_7_a

Moo-ra sendiri, sepertinya baru bangun dari tidurnya.... Bi-ryeom mengahmapirinya, sembari membawa sebaki makanan untuk sarapannya, “Sepertinya, Ha-baek yang barusan menelponmu?” tanyanya

Tak menjawab pertanyaan itu, Moo-ra malah mengatakan: “Sepertinya.. Shin-daepyo berhasil melakukan apa yang telah kuajarkan padanya..”

“Aku belum ingin mendengar namanya!” tukas Bi-ryeom

“Tidak.. aku akan terus menyebut namanya dihadapanmu hingga kamu merasa bosan karenanya..” ujar Moo-ra yang kemdian menunjuk sebaki makanan dihadapannya dan bertanya: “Ini apa?”

09_1
09_3
09_4

“Kudengar, para wanita selalu berkhayal untuk menikmati hidangan sarapan yang dibuat oleh pria yang mereka cintai..” ucap Bi-ryeom

“Hanya manusia bodoh yang meng-khayalkan hal semacam itu..” komentar Moo-ra

“Cobalah untuk berfikir seperti manusia bodoh, untuk beberapa saat saja..” pinta Bi-ryeom
“Tapi katamu, ‘pria yang aku cintai’.. jadi sadarlah!” tukas Moo-ra

“Berapa banyak lagi, langkah yang harus kuambil untuk mencapai posisi itu? 50 atau 100? Mungkinkah aku bisa sampai kesana?”

09_5

Moo-ra tak menjawabnya, ia malah menyuruh Bi-ryeom pergi meninggalkan kamarnya karena ia ingin mandi.

“Moo-ra adalah wanita paling sulit untuk didekati...” gumam Bi-ryeom

09_6

Tiba-tiba ponsel Bi-ryeom berdering.. ada telpon masuk dari Ha-baek, “Jangan hari ini, jadwalku padat.. aku telpon lagi nanti yaa--” ucapnya

Ternyata, sama seperti yang dikatakannya kepada Moo-ra.. kali ini, Ha-baek juga ingin meminta uang pada Bi-ryeom. Tetapi lagi-lagi.. ia diabaikan.. “Lihat saja, jika aku telah kembali ke negara air, aku akan mengutuk yang satu menjadi ikan sauri yang satunya lagi menjadi burung!”

10_1

Tak menyerah, selanjutnya Ha-baek meminta uang pada Soo-ri.. tentu saja, Soo-ri tak akan mengabakannya, teapi saat ini ia tak bisa pulang, karena sedang sibuk bekerjad menjadi pengayuh perahu angsa di danau.

“Tuan Ha-baek.. barusan Joo-dong menelponku.. ia menitipkan pesan, supaya anda jangan dulu pergi kemanapun karena dia akan segera kembali..” ungkap Soo-ri

“Kenapa dia menelponmu? Kenapa tak lansgug menelponku saja?” tanya Ha-baek

“Dia bilang, Moo-ra yang melarangnya.. Moo-ra memberitahunya, bahwa anda pasti akan akan meminta uang kepadanya--” jawab Soo-ri yang seketika membuat Ha-baek menghela nafas kesal.

10_3
10_4
10_5

Setelah terus dan terus berfikir dan mengingat dengan keras.. Yeom-mi tetap kesulitan untuk mengetahui, kalimat lengkap yang ingin dikatakan So-ah kepadanya lewat mimpinya. Disaat itu Soo-ri tengah bersama dengannya, ia-pun meminta bantuannya untuk bisa mengingat kembali dengan cara memerhatikan bibirnya.. akan teapi, hal itu mmebuat Soo-ri merasa tidak nyaman.

11_2
11_3

Akhirnya, yeom-mi memutuskan untuk menelpon So-ah.., “Bagaimana kabarmu? Semuanya baik-baik saja, ‘kan? Kurasa ada yag salah dengan gaya pacaranmu.. mana ada orang yang tetap saling-mencintai, setelah tahu kalau pada akhirnya mereka akan berpisah--”

“..berpisah ‘dengan cara yang benar’.. itulah kalimat yang tepat...”

“Terserahlah, ngomong-ngomong.. bagaimana kabarnya? Pacarmu yang menyelamatkanmu itu-----”

Sepertinya, So-ah tak mendengar pertanyaan terakhir dari Yeom-mi itu, karena ia telah lebih dulu mematikan telponnya..

11_4
11_5

Bi-ryeom menemui bertemu dengan Ha-baek di sebuah kafe.. langsung pada intinya, Ha-baek ingin meminta uang, “Nanti setelah kembali ke negara-air, aku akan membayarnya kembali..”

“Tapi, kita tak membutuhkan uang disana..” tukas Bi-ryeom

“Aku tak membicarakan mengenai uang,.. kamu bisa meminta apapun dariku..” ujar Ha-baek

“Termasuk posisimu sebagai Raja? Bersediakah kau memberikannya kepadaku?” ujar Bi-ryeom yang seketika membuat Ha-baek terdiam keheranan

11_6

Tapi beberapa saat kemudian, Bi-ryeom tertawa dan mengatakan bahwa dirinya hanya bercanda saja. Sejujurnya, ia bisa memberikan segala hal yang diminta Ha-baek, entah itu uang atau berlian.. ia bisa memberikannya detik ini juga. Akan tetapi, ia tak akan pernah melakukan hal itu, karena Moo-ra tak akan senang jika ia melakukannya...

Ha-baek hendak pergi, akan tetapi Bi-ryeom menahannya karena ada satu hal yang ingin ia tanyakan kepadanya: “Moo-ra... wanita seperti apakah dia sebenarnya?”


||=========||||=========||||=========||||=========||

Untuk UPDATE Sinopsis, serta berita terkait drama dan film bisa add Akun Official LINE My-Eternal Story : @azk6919i

Tambah Teman

You Might Also Like

1 komentar

Don't forget to tell us what's on your mind ❤❤❤