SAVE ME Episode 3

10:33

= SELURUH GAMBAR DAN KONTEN BERSUMBER DARI : OCN =

image

Kepergian Sang-jin, membuat ibu mengalami depresi berat. Terlebih karena dulu, ibu ditinggal mati oleh ibundanya ketika masih kecil. Sekarang ibu memiliki usia yang lebih panjang, tapi ia tak bisa menjaga anaknya dengan baik. Semua hal buruk yang terjadi, dianggapnya sebagai kesalahannya.

image

Menyedihkan, karena ada satupun teman sekolah yang datang untuk melayat. Wajar, karena dia murid baru.. tapi ini membuktikan tindak kepedulian mereka yang sangat rendah. Bahkan, wali kelas-nya sekalipun tidak muncul di rumah duka.

Menurutku ini lebih dari sekedar menyedihkan, tapi sudah sampai pada tahap yang mengerikan. Bersyukur karena kita tinggal di negara Indonesia yang tingkat kepedulian antar-sesama masih sangat tinggi. Rasanya gak tega lihat ayah, ibu & Sang-mi yang hanya bisa duduk, meratapi dan menyesali kepergian Sang-jin.

image

Sang-hwan adalah satu-satunya teman sekolah yang datang melayat. Tetapi ia tak sempat masuk kedalam, karena Sang-mi mencegahnya masuk dan malah mengusirnya. Satu kalimat pertanyaan terlontar dari mulut Sang-mi: “Kenapa kemarin kamu mendekatiku, jika pada akhirnya kamu melakukan hal itu kepadaku?”

image

Jelas-jelas, Sang-mi meminta pertolongan. Namun Sang-hwang malah bersikap acuh dan mengabaikannya begitu saja. Padahal.. sehari sebelumnya, Sang-hwan bersikeras mendekati Sang-mi, hanya untuk mengajaknya berteman. Dan kala itu, Sang-mi mulai terbuka dan mempercayainya.

Apakah tindakan Sang-hwan salah? MENURUTKU SALAH TOTAL.. karena setidaknya, jika Sang-hwan ikut naik ke atap gedung, Dong-cheol tak sendirian menghadapi keempat siswa tukang bully yang tingkahnya se-brutal kriminal psikopat. Akibat pilihannya dia, aku fikir untuk sekarang Sang-hwan lebih cocok disebut sebagai seorang pengecut (?)

image

Dugaanku, ternyata bener-bener kejadian. Dong-cheol yang tidak bersalah terpaksa dijadikan kambing hitam. Karena dialah satu-satunya siswa dari latar belakang keluarga ‘rendahan’, sementara penjahat yang aslinya.. mereka semua memiliki orangtua yang berpengaruh yang memiliki kekuasaan dan uang ditangan mereka.

Polisi ‘korup’ yang takut dengan ancaman dari atasannya, memilih untuk menutup kasus ini dengan kesimpulan Sang-jin meninggal karena bunuh diri. Terlebih lagi, bukti-bukti di masa lalu yang menunjukkan bahwa Sang-jin memang telah berulang-kali melakukan percobaan bunuh-diri.
Sementara Dong-cheol tetap ditahan, karena salah satu orangtua pem-bully mengetahui bahwa anaknya babak belur karena dihajar oleh Sang-cheol. Sungguh, ironi yang menyedihkan.. betapa mudahnya orang berduit lepas dari kejahatannya, sementara orang yang seharusnya disebut sebagai pahlawan malah dibuat sulit kehidupannya.

Di drama ini, uang dan kekuasaan bisa membeli segalanya. Rada kesel juga, karena geng tukang bully bisa bebas, bahkan sebelum Sang-mi memberikan kesaksiannya..

image

Detik-detik, ketika peti jenazah Sang-jin dimasukkan kedalam krematorium, Sang-mi tak kuasa menahan kesedihannya. Ia berlari keluar, dan tak sengaja bertabrakan dengan Jo Wan-tae.

Menghentikan langkahnya disamping tebing curang, perlahan Sang-mi berjalan menuju gelambir. Dia hendak loncat dari sana, sambil menangis ia mengakui: “Ketika kamu (Sang-jin) masih hidup, aku merasa terbebani dan aku sempat berpikir supaya kamu cepat----”

“Sang-mi, kamu harus berhati-hati. Masa depan yang cerah, menantimu didepan..” begitulah kalimat yang diucapkan Jo Wan-tae seletah ia menyelamatkan Sang-mi yang hampir saja mengakhiri hidupnya.

Seriusan deh, aku takut sama sama ahjussi ini. Tatapannya terlalu tajam, nada bicaranya halus tapi menikam. Kejadian ini, merupakan kedua kalinya dia mengelus wajah Sang-mi dan sangat jelas terlihat bahwa elusannya itu bukanlah elusan perhatian melainkan ada hasrat tersembunyi dibaliknya *that’s creepy

image

Dong-cheol dibebaskan karena pihak pelapor menarik gugatanya. Masalah hukumnya selesai, tetapi ia menghadapi masalah baru karena dikeluarkan dari sekolahnya. Sementara siswa geng-bully tak mendapat hukuman apapun, mereka bebas berkeliaran tanpa ada yang berani mengeolok-olok atau bahkan menggosipkan tingkah keji mereka.

image
“Berdirilah dengan tegap! Jangan jadi orang idiot!”
Dugaanku sebelumnya salah, karena ternyata hubungan persahabatan diantara Dong-cheol dan Sang-hwan masih kuat. Dong-cheol membenci fakta kalau semua pihak dari kantor polisi hingga sekolah ini, tak ada yang menganggap atau bahkan mendengarkan perkataannya hanya karena latar belakang keluarganya yang ‘rendahan’. Beda halnya dengan Sang-hwan yang selalu dihargai dan dipandang orang karena kekuasaan ayahnya. Akan tetapi, hal itu sama-sekali tak membuat ia membencinya.

Duh, persahabatan mereka.. SUKA banget deh, tanpa perlu penjelasan dari pihak manapun, sepertinya mereka udah memahami kondisi satu sama-lain. Dong-cheol bukan tipe orang yang pingin dikasihani, dia pria kuat dan bukan tipe pendendam *Second Lead Syndrome, lagi kumat nihhhh

image

Tapi sekuat-kuatnya Dong-cheol , tetap saja ada momen dimana ia merasa rapuh. Meskipun ia bukan pem-bully-nya, tetapi ia terus teringat sosok Sang-jin. Suara rintihan tangisannya dan ekpresi mengenaskannya ketika terkapar ditanah.. semua hal itu memenuhi pikiran Sang-jin, yang membuatnya merasa bersalah.

image
“Kalau kau menyesal, akuilah semuanya dihadapan polisi!”
Di pihak lain, para penjahat yang sebenarnya.. mereka malah asyik berkelian, tertawa lepas dan bersenang-senang dengan wajah tanpa dosa. Tentu saja itu membuat Dong-cheol emosi, dia mengikuti mereka dan pada akhirnya ia menghajar salah-satu dari keempat siswa kriminal itu.

Menurutku, tindakannya terbilang agak ‘cerdas’. Karena dia masih bisa mengotrol emosinya, dan tidak melakukan tindakan ‘sok jago’ dengan melawan keempat siswa itu sendirian. Dia memilih salah satu dari mereka dan memberinya ‘pelajaran’, hingga siswa itu minta maaf dan mengakui rasa penyesalannya atas kematian Sang-jin dan juga dikeluarkannya Dong-cheol dari sekolah.

image

Kala itu dia berkata ‘menyesal’.. tetapi kata itu hanya terucap dari bibirnya saja. Sesaat ketika Dong-cheol lengah, ia mengambil sebuah payung dan menusukkannya tepat di dada Dong-cheol.

*Waitt.. memangnya ujung payung tajem yaa? Tapi justru disitu poin ‘mengerikan’-nya.

Untung saja, di waktu yang tepat Sang-hwan muncul untuk membantu Dong-cheol. Pertarungan dua lawan satu ini, berakhir tragis setelah badan siswa tukang bully itu terjatuh tepat diatas bebatuan besar yang agak tajam...

*Duhhhh, urusan sama kantor polisi lagi T_T

image

Setelah di operasi, Siswa tukang bully itu dinyatakan mengalami cedera parah di tulang belakang yang menyebabkannya kemungkinan besar akan mengalami kelumpuhan. Ayahnya sangat marah dan tentu saja tak akan membiarkan kasus ini berlalu begitu saja.

image

Di lain pihak, ayahnya Sang-hwan sadar bertul dengan siapa anaknya tengah berurusan. Ayah siswa itu merupakan orang yang cukup berpengaruh dalam ranah politik, makanya ia harus menyembunyikan fakta bahwa Sang-hwan terlibat dalam insiden itu. Dengan asistennya, ia-pun menyusun rencana untuk menjadikan Dong-cheol sebagai kambing hitam dalam kasus ini.

*Duhhhh, kenapa harus Dong-cheol lagiiii!!!!!

image

Detektif yang menangani kasus ini, dengan mudahnya bisa ‘dirayu’ oleh ayahnya Sang-hwan hanya karena diiming-imingi naik jabatan. Akhirnya Sang-hwan bebas, sementara Dong-cheol tetap mendekam didalam sel tahanan.

image

Persahabatan mereka terkoyak, ketika hari persidangan Dong-cheol tiba. Seharusnya Sang-hwan datang untuk bersaksi dihadapan hakim. Tetapi nyatanya ia malah menyendiri di pinggir sungai.

Pilihan yang sangat berat untuknya, karena ayahnya telah berjanji untuk segera membebaskan Sang-cheol ketika tepilih kembali menjadi Gubernur. Karena jika Sang-hwan bersaksi di pengadilan, maka karir ayahnya-pun terancam. Anatar keluarga dan sahabat? Pastilah Sang-hwan memilih keluarganya. Sungguh ironi T_T

Rasanya kepingin marah sama Sang-hwan, tapi kalau aku di posisi dia aku-pun akan mengambil langkah yang sama. Tindakan ayahnya juga bisa dianggap sebagai langkah untuk melindungi anaknya, tapi jelas terlihat kalau dia sangat berabisi untuk mempertahakan jabatannya.

image

Kita belum tahu pasti, apakah ayahnya Sang-hwan ini, orang ‘baik’ sepenuhnya ataukah ‘baik’ itu cuman topeng-nya aja. Karena dengan cara-cara ‘kotor’nya, dia membebaskan Sang-hwan, terbukti dari tingkahnya yang menghalalkan segala cara untuk melindungi posisinya.

Bahkan ia memanfaatkan istrinya yang terbaring lemah sebagai ajang promosi menaikan pamornya dihadapan publik. Gara-gara adegan itu, aku berfikiran kalau ketulusan ayah itu ‘palsu’. Padahal sebelumnya, kita lihat dia sangat perhatian sama Sang-hwan dan ibu. Yang jadi pertanyaan, dia memanfaatkan keluarga untuk melindungi jabatannya atau  memanfaatkan jabatan untuk melindungi keluarganya (?)

image

Meskipun tak datang ke persidangan, Sang-hwan menyusul bis yang membawa Dong-cheol ke sel tahanan resmi. Terakhir kali, ia berteriak menyuruh Sang-cheol untuk “Berdiri tegap!” dan sekarang-pun demikian.

Saat itu, Dong-cheol tak mau melihat kerarahnya. Apakah karena dia marah? Ataukah karena dia memang tak sanggup menatap mata Sang-hwan? Semoga.. setelah semua yang tejadi, persahabatan mereka tetap utuh.

image

Terlebih lagi, berkali-kali dari depan gedung persidangan hingga duduk di dalam bis, Dong-cheol selalu menoleh kesamping. Seakan-akan tengah menunggu seseorang muncul, setidaknya untuk mengucapkan selamat tinggal kepadanya..

image

Diperjalanan menyusul bis Dong-cheol, perjalanan Sang-hwan sempat terhambat karena ia harus membawa Tuan Im ke rumah sakit, setelah melihatnya terjatuh di tengah jalanan dalam kondisi wajah babak belur.

image

Tuan Im seperti itu, akibat dianiaya geng bully. Padahal niatnya ingin membalas dendam, tapi malah ia sendiri yang dipukuli secara membabi-buat. Duh.. ini siswa tukang bully, gak pernah merenungi kesalahannya, bahkan setelah salah satu temannya terbaring kritis di rumah sakit, mereka masih asyik keluyuran, ketawa-tiwi di tempat karaoke. Kalau dibiarkan terus, mereka malah makin menjadi-jadi. Orangtua macam apa yang membebaskan anaknya hingga seperti itu!!!

image

Ohiyaa, episode ini scene di Geoseonwon cuman dikit. Baek Jung-ki pergi ke Seoul, karena harus mengunjungi kediaman salah-seorang pengikutnya. Tapi dia menitipkan pesan kepada Kang-shil utuk merawat keluarga Sang-mi.

Diantara Baek Jung-ki dan Jo Wan-tae, sepertinya mereka kurang ‘akur’. Entah apa alasan pastinya, tetapi ketika Wan-tae menyinggung sikap perhatian lebih Jung-ki kepada Sang-mi, “Ingin menjadikannya sebagai kekasihmu?” sindirinya, sontak Jung-ki menyebutkan bahwa Wan-tae ia telah menyerahkan seluruh urusan keuangan di Geonseowon kepada Wan-tae.

Singkatnya, terkesan bahwa Baek Jung-ki menyuruh Wan-tae untuk menutup mulut. Dirinya bahkan mengibaratkan Sang-min sebagaai ‘Virgin-Mary’ (*maaf kalau salah, tapi dari hasil searching, sebutan itu untuk ibunya Jesus) yang akan menuntun mereka menuju surga.

image

Yang mengkhawatirkan itu, depresi ibunya Sang-mi yang makin parah. Ibu menyalahkan Sang-mi dan ayah atas kematian Sang-jin. Dia sering berhalusinasi Sang-jin berada didekatnya, bahkan ia melarang pintu depan ditutup dengan alasan Sang-jin nanti tidak bisa masuk ke rumah..

 EPISODE 01-02 <<< "SAVE ME" >>> EPISODE 04

||=========||||=========||||=========||||=========||

Untuk UPDATE Sinopsis, serta berita terkait drama dan film bisa add Akun Official LINE My-Eternal Story : @azk6919i

Tambah Teman

You Might Also Like

0 komentar

Don't forget to tell us what's on your mind ❤❤❤