SINOPSIS BRIDE OF THE WATER GOD Episode 7 [Bagian 2]

13:29

= SELURUH GAMBAR DAN KONTEN BERSUMBER DARI tvN =

00

Ha-baek beserta Moo-ra dan Soo-ri, akhirnya tiba di lahan tempat gerbang menuju alam para-dewa berada. Setelah kejadian pertikaiannya dengan Bi-ryeom, sekarang merupakan kali pertamanya mengunjungi tempat ini lagi. Moo-ra penasaran, mengapa Ha-baeng ingin mengunjungi tempat ini? Karena menurutnya.. sudah tidak ada gunanya jika mereka hendak mencari jejak keberadaan Joo-dong ditempat ini.

01

Ha-baek berjalan menghampiri tempat dimana terdapat beberapa batu berserakan.. Ia mengambil salah satu batu tersebut dan menunjukkannya kepada Moo-ra. Batu itu berbeda dari yang lainnya, karena disana terdapat bercak darah..

Sebenarnya, di hari ketika Ha-baek pertama kalinya mendatangi tempat ini.. ia melihat keberadaan batu tersebut. akan tetapi ia tak menganggapnya penting. Namun, setelah mendengar cerita dari Moo-ra yang mengatakan bahwasanya Joo-dong menyebut ada hal janggal di tempat ini, maka ia-pun teringat kembali akan batu tersebut.

02

Moo-ra menggenggam batu itu kemudian memejamkan matanya.. ia bisa merasakan bahwa ini merupakan darah manusia. Akan tetapi hal ini tidak mungkin, karena manusia tak akan pernah bisa meninggalkan jejaknya di lahan ini. Mungkin saja darah ini berasal dari seseorang yang tinggal di alam para-dewa? Namun hal itu juga tidak mungkin , karena penghuni alam para-dewa tidak memiliki darah..

“Jadi.. apa ini?” gumamnya

03

Hoo-ye tengah menanam beberapa bunga bersama dengan seorang gadis kecil yang ternyata tidak bisa melihat. Mereka menyelesaikan pekerjaannya dengan dipenuhi tawa-canda. Setelah selesai, gadis kecil itu mengajak Hoo-ye untuk makan mie yang dibuatkan oleh neneknya. Namun, Hoo-ye menolak hal tersebut, karena ia telah memiliki janji penting.

04

Beberapa langkah setelah Hoo-ye pergi, gadis kecil itu berteriak : “Ahjussi!!! Ahjussi!!! Ada binatang kecil (ulat bulu) ditanganku!!!”. Seketika Hoo-ye terdiam, ia-pun menujukkan ekspresi kemarahannya..

05

Kemudian ia bergegas menyingkirkan ulat bulu tersebut kemudian memeluk gadis kecil itu dan menengangkannya : “Sudah.. jangan menangis..”. Mereka kemudian berjalan pergi, dan bersamaan dengan itu Hoo-ye menerima panggilan masuk dari So-ah.

06

Sesaat setelah mereka pergi.. ulat bulu yang disingkirkan oleh Hoo-ye tiba-tiba terbakar begitu saja..

07

Moo-ra bertanya.. apakah batu berdarah itu berkaitan dengan hilangnya Joo-dong? Namun, Ha-baek belum bisa memastikannya.. kemudian Moo-ra lanjut bertanya apakah mereka perlu memberitahukan hal ini kepada Bi-ryeom?

“Tidak.. aku masih tidak memercayainya..” tegas Ha-baek

Moo-ra juga berpikiran sama dengannya.. terlebih lagi, beberapa kali Bi-ryeom mengatakan hal yang aneh kepadaya. Terakhir, Bi-ryeom menyebutkan bahwa Ha-baek tidak ingin segera kembali ke alam para-dewa. Secara lansgung, ia-pun memastikan hal itu dengan bertanya kepada Ha-baek... namun Ha-bak memilih untuk diam, tak merespon pertanyaan itu.

08

Kini, mereka tengah berada di pesisir lautan.. Moo-ra melanjutkan obrolannya dengan Ha-baek. Ia menyinggung masa lalu mereka, dimana Moo-ra seringkali berbohong tetapi Ha-baek tidak pernah sekalipun berbohong kepadanya. Dia tahu betul bahwa Ha-baek tidak akan pernah berbohong.. namun kali ini, ia berharap apabila yang dikatakan Bi-ryeom itu memang benar adanya katakan saja padanya kalau itu salah.

09

“Jangan jatuh cinta kepada wanita dari bangsa manusia lagi! Jangan mengingat kembali rasa sakit dari masa lalumu itu!” pinta Moo-ra

10

Moo-ra berlutut dihadapan Ha-baek, dia menyadari perkataannya barusan terlampau kasar. Maka dari itu, dia bersedia untuk menerima hukuman apapun dari Ha-baek.

11

Soo-ah bertemu dengan Hoo-ye, sekarang saatnya ia uuntuk menyelesaikan urusan jual-beli diantara mereka. Ketika hendak membubuhkan cap di kertas.. samar-samar, terdengar suara Ha-baek yang selalu melarangnya untuk menjual lahan tersebut.

12

So-ah menarik nafas dalam-dalam dan pada akhirnya, ia benar-benar membubuhkan cap-nya di atas kertas kontrak jual-beli tersebut. Hoo-ye mengatakan bahwa departemen yang seharusnya mengurus kontrak jual-beli ini menaruh kecurigaan terhadap tingkahnya yang dengan sukarela mengurus semuanya sendiria. So-ah merasa tidak enak, ia-pun berniat untuk memberikan mereka penjelasan.. akan tetapi Hoo-ye melarangnya ia mengatakan bahwa ada beberapa hal yang malah menjadi semakin rumit ketika salah-satu pihak memberikan penjelasannya...

13

Kemudian, Hoo-ye menyinggung perihal perasaan So-ah yang harusnya merasa sedih karena kehilangan lahan yang merupakan warisan turun-trmurun keluarganya. So-ah menyanggah hal tersebut.. baginya lahan itu sama-sekali tidak bermanfaat. Lagipula ayahnya telah menghilang entah kemana dan ibunya telah meninggal..

“Aku yakin.. anda bukanlah orang yang terlahir dari keluarga-kaya raya..” tebak So-ah

“Aku yatim-piatu..” ucap Hoo-ye yang sontak saja membuat So-ah terkejut mendengarnya. Terlebih lagi, dengan sendirnya Hoo-ye bersedia menceritakan latar belakang keluarganya.. Ia tak mengetahui keberadaan ibunya dan sebelum hidup terlantar, ia merupakan korban kekerasan ayahnya.

14

Saking terkejutnya, So-ah tak sengaja menjatuhkan sendok makan.. ketika hendak mengambilnya, Hoo-ye lansgung memegang pergelangan tangannya dan mengatakan bahwa mereka bisa meminta sendok yang lain lagi.

15

Di mobilnya, Moo-ra bertanya apakah Ha-baek tidak merasa lapar? Karena kebetulan, di daerah sini banyak restoran yang bagus.. Habaek mengatakan kalau dirinya tidak lapar sama sekali.

16

Tapi tiba-tiba, Moo-ra menghentikan mobilnya. Dari kejauhan ia melihat So-ah yang baru saja berjalan keluar dari sebuah restoran bersama dengan Hoo-ye. Mereka semua melihatnya, Soo-ri berkomentar bahwa ia pernah melihat pria itu sebelumnya.. Dan Ha-baek,... kita melihat matanya yang agak berkaca-kaca *jealous mode ON

17

Hoo-ye merasakan suasana diantaranya dengan So-ah menjadi terasa sangat kikuk. Ia-pun bertanya apakah yang dikatakannya tadi itu terdengar aneh? Apakah sekarang, So-ah tengah menilainya dari sudut pandang seorang Psikiater? Ia menebak kalau So-ah pasti mengiranya sebagai seseorang dengan kepribadian ganda.. karena agak mustahil untuk orang dengan masa lalu sepertinya, bisa menceritakan semua itu dengan sangat ringan seperti ini.

“Ahh.. tidak ‘kok..” jawab So-ah

“Ayo.. aku akan mengantarmu pulang..” ajak Hoo-ye

So-ah menolak, ia mengatakan bahwa angin malamnya sangat segar. Ia ingin naik bis, kemudian jalan-kaki menuju rumahnya sembari menikmati angin malam. Hoo-ye memahami hal tersebut ia-pun mempersilahkan So-ah untuk pulang tanpa diantar olehnya.

18

Akan tetapi sebelum berpisah, Hoo-ye penasaran akan sesuatu : “Seberapa cepat, angin yang berhasil menggetarkan hatimu itu?” tanyanya yang sontak membuat So-ah terdiam kebingungan

19

Dari dalam mobil, Ha-baek terus memerhaikan mereka.. ia kemudian memberikan jawabak atas pertanyaan Moo-ra kepadanya tadi : “Bi-ryeom mengatakan hal yang salah.. tak peduli dia benar atau salah, yang terpenting adalah jawaban yang keluar dari mulutku ‘kan?” ungkapnya yang seketika mebuat Moo-ra tertawa kegirangan

20

So-ah berjalan sendiri menuju ke rumahnya.. ia mengingat kembali, lanjutan perkataan Hoo-ye kepadanya. 

21

“Aku ingin tahu, apakah angin itu masih bisa kuhentikan?” tanya Hoo-ye

“Entahlah, apa mungkin angin itu sangat penting hingga aku harus menghitung kecepatannya. Yang pasti, jikalau aku harus menghentikannya.. maka aku akan melakukannya sendiri, tanpa bantuan dari siapapun. Dan lagipula kurasa angin itu telah berhenti..” jawab So-ah

22

So-ah berjalan melewati tempat Ha-baek biasa menunggunya.. Namun kali ini, Hs-baek tak berada disana. Ia-pun melanjutkan langkahnya dengan lesu, sekan-akan ia merasa kecewa akan hal tersebut.

23

Rooftop terlihat sudah gelap, So-ah menaiki tangga dan bertanya-tanya : “Apakah mereka sudah tidur?”. Akan tetapi ketika sampai di atas, ia dikejutkan oleh sosok Ha-baek yang tengah duduk menyendiri didalam bekas bilik telpon.

So-ah berniat menceritakan apa yang telah dilakukannya hari ini.. akan tetai, Ha-baek memotong kalimatnya dan malah memeberinya saran supaya lain kali tidak pulang terlalu larut karena jalanannya sangat gelap.

Dengan gugup, So-ah kemudian bertanya.. mengapa Ha-baek tak berdiri didepan untuk merenungkan cara mengembalikan kekuatanya lagi? Dengan datarnya.. Ha-baek mengatakan kalau ia tak akan merenungkannya lagi, karena cepat atau lambat ia akan segera kembali ke asalnya.

24

Setelah melihat So-ah pergi.. Ha-baek melihat batu berdarah yang sedari tadi digenggam olehnya. Ia kemudian menelpon Moo-ra dan bertanya apakah dia mengenal dewa-minor yang telah hidup lama dan mengetahui cerita dari zaman dulu?

“Tentang batu-berdarah ini.. sepertinya aku tahu siapa pemiliknya..” gumam Ha-baek

25

Sebelum tidur, So-ah teringat sikap Ha-baek kepadanya barusan.. ia bertanya-tanya, mengapa Ha-baek bersikap seperti itu dan mengapa dirinya repot-repot menemui Ha-baek? Terlebih lagi, tiba-tiba suara Ha-baek yang melarangnya menjual lahan itu kembali terngiang di telinganya, hingga membuat ia kesulitan untuk memejamkan matanya.

26

Melalui pintu dari kamarnya yang terhubung langsung ke ruangan tempat Ha-baek tidur, So-ah memanggil Ha-baek dan mengajaknya untuk berbicara. Ketika pintunya dibuka, Ha-baek sudah berdiri dihadapannya dan itu membuatnya agak terkejut. 

So-ah langsung bertanya, mengapa ia tak boleh menjual lahannya? Bukankah pintu gerbang menuju dunia para-dewa tidak akan menghilang meskipun pemiliknya berganti?

“Iya memang pintunya tak akan menghilang.. maka dari itu, aku membiarkanmu untuk melakukan apapun yang kamu inginkan..” ungkap Ha-baek

“Iya aku mengerti, tapi aku membutuhkan alasan yang lebih kuat lagi..” pinta So-ah

27

“Mereka bilang.. bahkan seorang Raja sekali-pun tak akan bisa melindungi lahan kecil itu..” ungkap Ha-baek

“Tapi, kamulah yang terlahir untuk menjadi Raja... Bukankah berarti, hal ini tidak akan menjadi masalah besar?” tebak So-ah

“Memang tidak penting. Tetapi, selalu ada dewa lain yang bersiap menunggu kesempatan mereka tiba..” ungkap Ha-baek

28

So-ah kembali ke tempat tidurnya.. ia bergumam menyebutkan perkataan Ha-baek itu belum tentu akan terjadi. Lagipula.. Ha-baek sudah memberikannya izin, sehingga ia berhak untuk menjual lahan tersebut.

29

Keesokan harinya.. kita melihat wajah So-ah yang dihiasi kantung mata tebal. Sudah jelas, semalaman ia memikirkan hal ini hingga membuatnya tidak bisa tidur dengan nyenyak.

30

Di Rooftop, ia menjemur seprei beserta selimutnya.. Soo-ah mengajam mereka untuk sarapan bersama, akan tetapi Soo-ri mengatakan bahwa mereka sudah ada janji untuk makan diluar bersama dengan Moo-ra.

Soo-ri teringat kejadian malam tadi, ia-pun mengatakan kepada So-ah kalau mereka melihatnya bersama dengan Hoo-ye. So-ah terkejut.. ia bertanya-tanya, apakah berarti Ha-baek telah mengeathui perihal kontrak jual-beli lahannya? Akan tetapi.. Ha-baek sama-sekali tidak mengetahui bahwa Hoo-ye merupakan pembelinya..

31

Ha-baek mengajak Soo-ri untuk bergegas pergi, sementara So-ah masih dibuat kebingungan dengan rasa bersalahnya terhadap Ha-baek.. disatu sisi ia ingin bersikap cuek, tapi disisi lain.. perkataan Ha-baek selalu terngiang-ngiang di telinganya.

32

Moo-ra menemui Bi-ryeom.. Setelah semalaman telpon darinya tak diangkat, sekarang ia bertanya lansgung kepada Bi-ryeom.. apakah ia mengenal seorang dewa-minor yang yang usianya seumuran dengan Imam-besar?

“Ada.. dan kau juga pasti mengenalnya..” jawab Bi-ryeom

33

Beberapa orang yang mengendarai mobil mewah bertemu di sebuah tempat.. setelah mendengar oborlan mereka, kita bisa mengetahui kalau semuanya merupakan dewa-minor. Mereka hidup sebagai manusia yang memiliki profesi berbeda-beda.. dan hampir semuanya terlihat sudah tua.

34

Hanya saja, datanglah seorang Dewa-minor yang nampaknya masih muda.. mereka menyebutnya Jin-geon. Mereka tak menyangka bahwa Jin-geon akan datang hari ini, sosoknya sangat misterius.. karena tak ada satupun dari mereka yang pernah mendengar suaranya.

35

Tak lama kemudian datanglah Joo Geol-rin, mereka riuh menyambutnya dengan sebutan ‘sang penyelamat’. Karena hanya Geol-rin yang berani meninggalkan ‘tanda’ didiri Ha-baek kemudian berhasil kabur setelahnya.

36

“Tapi kenapa kau terlihat begitu takut kepadanya (Ha-baek)? Dia memang Raja di dunia para Dewa. Akan tetapi, disini dia bukanlah siapa-siapa..” ujar salah-seorang dewa-minor

37

Tiba-tiba pintu terbuka.. dan dari-sana terlihat Bi-ryeom yang berjalan ke arah mereka. Semuanya terkejut ketakutan, mereka bahkan bersiap untuk berlari kabur. Bi-ryeom hanya tersenyum.. dengan santai ia mempersilahkan merka semua untuk pergi kecuali Joo Geol-rin.

38

Tak lama setelahnya, munculah Moo-ra.. yang seketika membuat Joo Geol-rin gemetar ketakutan. Dia berlutut dihadapan Moo-ra dan meminta ampunan darinya, terlebih lagi.. Karena ia tak menceritakan apapun kepada Ha-baek.

39

Karena ternyataa.. perkelahaian diantara Joo Geol-rin dengan Ha-baek.. semua itu merupakan perintah dari Moo-ra. Mendengarnya, membuat Bi-ryeom tertawa cekikikan.. ia tak menyangka bahwasanya selama ini Moo-ra yang telah merencanakan pertarungan itu dan Moo-ra sendiri yang bersikeras menutupi fakta tersebut supaya Ha-baek tidak mengetahui bahwa Moo-ra  tengah merasa cemburu berat pada saat itu.

40

Mereka memasukkan Joo geol-rin kedalam mobil Moo-ra.. kemudian sebelum pergi, Bi-ryeom lanjut membahas kejadian lampau ketika pertarungan tanpa sebab jelas itu terjadi. Ia ingat betul bahwasanya saat itu bertepatan dengan kedatangan Ny.Shim ke alam para-dewa.. namun ia memberitahu Moo-ra bahwa semuanya merupakan salah-faham, karena sebenarnya Ha-baek juga membenci wanita itu.

“Lebih baik.. sekarang mengaku sajalah kepada Ha-baek. Nyatakan perasaanmu dan bersiaplah untuk ditolak..” ujarnya

“Untuk apa kau peduli akan hal ini?” tanya Moo-ra

“Karena aku benci melihatmu seperti ini.. karena ini bukanlah sesuatu yang seharusnya terjadi kepada seorang Dewi..” gumam Bi-ryeom

41

Moo-ra memasuki mobilnya.. ia mengunci pintu dan memutuskan untuk tidak membawa Bi-ryeom bersama dengannya.

42

Sementara itu, di sebuah restoran.. Ha-baek tengan makan bersama dengan Soo-ri. Ia menyinggung soal cerita lampau yang pernah ia dengan dari Imam-besar.. Awalnya, ia menduga bahwa cerita itu hanyalah omong kosong belaka. Akan tetapi, setelah menemukan batu tersebut, ia menjadi semain penasaran akan cerita itu.

“Apak kau pernah mendengar tentang cerita ini?” tanya Ha-baek kepada Soo-ri

Belum sempat Soo-ri menjawabnya, Ha-baek mendapat telpon dari Moo-ra yang mengatakan bahwa ia telah berhasil membawa Joo Geol-rin bersama dengannya.

43

Setelah dibangunkan oleh Moo-ra, Joo Geol-rin lansgung gemetar ketakutan memohon ampunan dari Ha-baek. Ha-baek begitu kesal melihatnya, apalagi perutnya selalu bernyunyi ketika berhadapan lansgung dengannya. Meskipun demikian, Ha-baek berusaha keras untuk bisa fokus.. 

44

Moo-ra memerintahkan Joo Geol-rin untuk berkata jujur, jika ia ingin keluar dari tempat ini dalam keadaan selamat. Moo-ra mengajukan pertanyaan yang pertama, ia bertanya apakah Geol-rin mengenali Jin-geon? Dan mengapa Jin-geon tidak pernah berbicara?

45

Belum sempat Joo Geol-rin menjawab pertanyaan itu.. Ha-baek menunjukannya batu berdarah dari lahan tempat pintu gerbang menuju alam para-dewa berada. Geol-rin sangat terkejut melihatnya, ia-pun mengatakan bahwa tak mungkin darah manusia bisa tertinggal disana karena seharusnya dewa telah menghapusnya.. tetapi jika darah tersbut tetap ada seperti ini, berarti asalnya dari alam para-dewa.. Tapi itu juga tidak mungkin.

“Lantas hal apa yang memungkinkan itu terjadi?” tanya Ha-baek

“Tak ada yang memungkinkan hal itu untuk bisa terjadi..” jawab Geol-rin

“Kalau begitu, biar aku rubah pertanyaannya. Siapakah orang yang memungkinkan hal seperti itu bisa terjadi?” tanya Ha-baek

46

Joo Geol-rin terdiam sejenakk.. kemudian ia menatap Ha-baek dan mengatakan : “Tidak mungkin.. tidak mungkin orang itu..”

Ha-baek menatapnya tajam, kemudian mengatakan : “Apakah kau juga menduga bahwa orang itulah dalangnya?”

47

Ha-baek, Moo-ra beserta Soo-ri.. duduk bersama di kafe yang berada di resort milik Hoo-ye. Mereka membicarakan sosok ‘orang itu’ yanng sedari tadi dibicarakan oleh Ha-baek.  Moo-ra mengetahui kisah mengenai sosok ‘orang itu’ karena Bi-ryeom sangat sei=ring membahasnya, sementara Soo-ri dibuat kebingungan sendiri karena ia sama-sekali tak mengerti.. apa yang tengah mereka obrolkan saat ini.

48

Tiba-tiba.. muncullah Hoo-ye, yang kemudian menyapa dan mengobrol sebentar dengan mereka. Ia mengenali sosok Ha-baek sebagai pasiennya So-ah.. Ia-pun mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan, namuan Ha-baek mengabaikannya.

Moo-ra meminta maaf atas sikap Ha-baek, namun Hoo-ye tidak ingin mempermasalahkannya lebi-lanjut. Lagipula perkataannya barusan, mungkin terkesan ‘sok-kenal’ hingga membuat Ha-baek bersikap seperti itu kepadanya. 

Setelah itu Hoo-ye pamit dan berjalan pergi meninggalkan mereka..

49

Moo-ra terus memerhatikannya dari belakang, ia mengatakan jika dirinya seorang manusia, maka ia pasti telah jatuh-cinta kepada Hoo-ye yang merupakan sosok pria yang sangat sempurna dimata seorang wanita. Rasanya tidak pantas jika So-ah menjalin hubungan ‘spesial’ dengan Hoo-ye, akan teteapi bagaimapun juga mereka bisa membantu So-ah untuk merealisasikan hubungan itu..

Ha-baek tak berkomentar apapun.. sedari tadi, ia terus memerhatikan Hoo-ye, seakan-akan ia tengah memastikan sesuatu..

50

Bersamaan dengan itu, terlihat kemunculan So-ah. Hoo-ye menghampirinya dan menyapanya.. Dengan gugup, So-ah bertanya apakah Hoo-ye tengah bertemu dengan seseorang?

“Melihat-mu datang dalam kondisi gelisah seperti itu, membuatku menduga bahwa kamu telah berubah pikiran. Aku baru saja ditolak ‘kan?” tebak Hoo-ye sembari tersenyum

51

Dari jauh, Moo-ra memerhatikan mereka.. saat ini merupakan pertama kalinya, ia bisa melihat Hoo-ye yang tersenyum lebar seperti itu.

52

Dan tanpa alasan yang jelas, Ha-baek tiba-tiba berdiri dari tempat duduknya. Ia berjalan menghampiri Hoo-ye kemudian berbisik di telinganya : “Aku telah menangkapmu.. Kubilang, aku telah berhasil menangkapmu..”

53

=============
*** NOTES ***

Heol.. Daebakkk.. clue di episode ini sepertinya mematahkan teori tentang Hoo-ye = Joo-dong. Sempet ngira kalau dia juga dewa, tapi dia bilang kalau dia yatim-piatu? So.. that means???

Banyak banget clue di episode iniii, tapi karena masih setengah-tengah.. jadi ragu buat berspekulasi dulu. Kita lihat aja deh, episode besok bakalan ada clue apa lagi. 

Sewaktu Hoo-ye ngobrol sama So-ah, dia bertanya tentang 'angin' yang dalam hal ini bukan berarti angin beneran. Aku juga enggak yakin maksudnya apa, tapi kayaknya dia bertanya tentang beban perasaannya So-ah ke Ha-baek (?)

Nah iyaa, gadis kecil dari episode 1 akhirnya muncul lagi tuh. Dulu sempet ngira kalau dia adalah So-ah kecil, tapi ternyata bukan. Entahlah siapa dia, yang jelas dia deket banget sama Hoo-ye...




||=========||||=========||||=========||||=========||

Untuk UPDATE Sinopsis, serta berita terkait drama dan film bisa add Akun Official LINE My-Eternal Story : @azk6919i

Tambah Teman

You Might Also Like

4 komentar

  1. Ttg Angin kan so ah pernah cerita ttg angin yang menggoyahkan hatinya

    Yg jelas ho ye jahat terselubung.
    Kisahnya ak banget....ditinggal pergi karena tak mungkin bersama
    Hiks hiks....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ohyaaa? Aku lupa banget dia pernah bahas tentang angin ituu. Heheheh

      Padahal berharap Im Joo-hwan dapet peran protagonis. Eh ternyata.. diam-diam (???)

      Delete
  2. kok aku malah berpikir anak kecil yg buta itu ibu nyaa so-ah yaa hehe 😅😅 makin kesini makin seruu ceritanya 😆😆

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyanih dikasih clue, tapi dikasih misteri baru jugaa. Lah anak itu ibunya So-ah? Wkwkwkwk--

      Delete

Don't forget to tell us what's on your mind ❤❤❤