AGE OF YOUTH EPISODE 12 PART 1

05:39

----------------------


SELURUH GAMBAR DAN KONTEN BERSUMBER DARI : JTBC =

1

Dengan sangat antusias, kepada psikiater pribadinya  Ye Eun menceritakan perilaku Ji Won yang telah membohongi seluruh temannya. Meskipun untuknya sendiri, kebohongan itu tak berakibat apapun, karena dirinya masih mempercayai Tuhan sehingga tak mudah terpengaruh oleh hal-hal yang berbau mistis seperti ‘hantu’ tersebut.

Sementara itu, teman-temannya menganggap kebohongan Ji Won sebagai sesuatu yang nyata. Satu-per-satu dari mereka, bahkan sempat meyakini bahwa hantu tersebut merupakan seseorang yang mereka kenal.

2

“Tapi... mengapa dia berbohong? Bukankah semua orang selalu memiliki alasan untuk berbohong? Apakah alasannya itu???” gumam Ye Eun

==================
3

Ji Won pulang kerumah, ia melihat Eun Jae yang tengah mengupas apel sendirian di dapur. Dalam hatinya, ia bertanya-tanya apakah dirinya harus meminta maaf sekali lagi dan juga meyakinkan bahwa dirinya tak akan membongkar perihal rahasia kematian ayahnya Eun Jae?

Sayangnya, Ji Won mengurungkan niatnya untuk melakukan hal tersebut. Pahadal, jika kita mendengar suara hati Eun Jae, ia terus berfikiran kalau Ji Won lambat-laun akan menceritakan perihal kematian tidak wajar ayahnya, “Dia pasti menganggapku sebagai seorang pembunuh..” pikir Eun Jae

4

Ji Won mengambil segelas air putih yang kemudian diminumnya, ia tak bisa mengalihkan pandangannya dari tangan Eun Jae yang tengah mengupas apel. Eun Jae menyadari hal tersebut, “Kamu mau apel?” tanyanya sembari menyodorkan apel bersama pisau yang tengah dipegangnya

5

Dengan gugup, Ji Won menolaknya. Eun Jae-pun mengalihkan pembicaraan dengan bertanya apa yang bisa dilakukan seseorang ketika memiliki sedikit waktu yang tersisa dalam hidupnya..

6

Ji Won semakin gugup terdiam, tangannya bergetar dan ia bertanya megapa Eun Jae ingin mengetahui hal seperti itu?

“Entahlah, aku hanya penasaran.. Apa yang akan orang lain alkukan ketika mengetahui hal seperti itu?” ungkap Eun Jae yang langsung berjalan memasuki kamarnya.

7

Sejenak, Eun Jae hanya terdiam melamun... Kemudian ia mengambil pulpennya dan menulis kalimat ‘hal yang harus kulakukan..’, beberapa saat kemudian ia menulis lagi kalimat ‘hal yang ingin kulakukan’

=========================
8

Kali ini Ye Eun menceritakan perilaku Eun Jae yang terlalu ‘lemah’ dimatanya. Padahal, menurutnya Eun Jae adalah gadis yang cukup pintar hingga bisa diterima dikampusnya.

Namun, masih menjadi pertanyaan besar baginya mengapa Eun Jae selalu bersikap rendah diri???

======================
9

Ditemani Jong Yeol, Eun Jae makan mie disebuah kedai. Hari ini, Eun Jae bersikap agak ‘aneh’. Tiba-tiba, ia ingin mencoba memasukkan parseli kedalam kuah mie-nya. Padahal, jelas-jelas ia tak pernah melakukan hal itu sebelumnya karena ia tak menyukainya.

10

Selanjutnya, ia meminta Jong Yeol untuk menemaninya minum soju. Jong Yeol menyadari sikap aneh Eun Jae, “Kamu sedang memiliki masalah?” tanyanya

11

Eun Jae menghelas nafas dalam-dalam, dan mengungkapkan jika dirinya hanya ingin mabuk. Jong Yeol tak bertanya apapun lagi, ia-pun menuangkan soju di gelas mereka. Awalnya Eun Jae yang ingin mabuk, namun pada kenyataannya malah Jong Yeol yang mabuk duluan.

12

Dalm kondisi yang seperti ini, Eun Jae mengatakan pada Jong Yeol jikalau nanti kebenaran tentang dirinya terungkap, ia meminta agar Jong Yeol tak terlalu membencinya....

========================
13

Berpindah ke sebuah tempat les menggambar, semua murid diasana adalah anak-anak dan Yi Na merupakan satu-satunya orang dewasa. Hasil sketsa yang dibuatnya mendapat kritikan pedas dari anak kecil yang duduk disampingnya. Yi Na menyikapi hal itu dengan sangat cuek, “Jangan mengurusi pekerjaan orang lain.. Urusi saja pekerjaanmu sendiri..” ucapnya ketus

=======================
14

Kemudian, di tempat konselingnya Ye Eun menceritakan sosok Yi Na yang ‘agak’ dibenci olehnya. Bagaimana tidak? Semua tingkah lakunya terlalu ‘berlebihan’. Dengan modal dandanan modern, Yi Na mencoba untuk menjadi seorang desainer, “Bukankah dia terlalu tua untuk berubah?” pikir Ye Eun

=====================
15

Dirumah, Yi Na berlatih menggambar sebuah apel. Sayangnya, hasil yang ia dapatkan tak sesuai dengan apa yang diharapkannya. Lelah? Capek? Tentu saja dirasakannya. Ia bertanya-tanya kepada dirinya sendiri, apakah ia harus menyerah?

16

Jin Myung keluar  dari kamar, dan berjalan melewati Yi Na. Ia bisa mencium hawa-hawa kepustusasaan dari Yi Na, “Kamu ingin menyerah?” tebaknya

Yi Na langsung duduk dengan tegap, dan menegaskan kalau dirinya tak mungkin menyerah. Padahal sejujurnya, ia sangat ingin menyerah namun terlalu gengsi untuk megungkapkannya karena ia telah terlanjur memperlihatkan usahanya yang ingin berubah dihadapan semua orang.

=====================
17

Berikutnya, Ye Eun menceritakan sosok Jin Myung yang sangat amat dihormati olehnya. Sampai saat ini, ia sendiri masih tak bisa mempercayai kemampuan Jin Myung dalam bekerja sekaligus belajar. “Bukankah itu hal yang memelahkan?” pikirnya

Selain itu, ia juga tak habis fikir bagaimana bisa Jin Myung tak memberitahukan teman serumahnya tentang kondisi adiknya yang tengah koma waktu itu. “Kami sudah saling mengenal lebih dari 2 tahun, tapi dia tak pernah memberitahuku tentang hal itu....” keluhnya

======================
18

Para gadis kompak mengenakan pakaian bernuansa hitam, karena hari ini mereka akan datang ke upacara pemakaman adiknya Jin Myung. Ketika menunggu yang lainnya bersiap-siap, Ji Won bertanya kepada Eun Jae, “Kapan hasil otopsinya akan keluar?” Dengan suaranya yang pelan Eun Jae menjawab hari Rabu depan.

19

Ketika hendak bertanya lebih lanjut, datanglah Ye Eun yang telah mengenakan pakaian serba hitam dari atas sampai bawah, “Apakah kamu tidak kepanasan?” tanya Eun Jae. Ye Eun menceritakan kalau bajunya ini berbahan tipis, jadi tidak akan mebuatnya kegerahan.

20


Sementara itu, Yi Na mengenakan pakaian berwarna hitam dengan bagian atas yang agak terbuka. Hal itu membuatnya menjadi bahan sindiran Ye Eun. Namun seperti biasanya, Yi Na hanya menganggap sindirian itu bak angin lalu, “Asal kau tahu, hanya ini baju hitam yang kumiliki..” tukasnya

21

Mereka tiba di lokasi rumah duka.. Sungguh pemandangan yang agak mengenaskan buatku. Kenapa? Karena tak seperti rumah duka pada umumnya yang dihadiri oleh banyak pelayat, disana hanya ada Jin Myung sendirian saja.

Jin Myung sempat terkejut dengan kehadrian teman-temannya, “Tempat ini sangat jauh, adahal kalian tak usah repot-repot untuk datang kesini..” ucapnya lirih

“Sunbae.. tentu saja kita harus datang..” ujar mereka

22

Mereka mencoba untuk melakukan hal yang biasa orang lakukan saat melayat. Menaruh bunga di depan peti mayat, kemudian berdiri berjajar rapi untuk memberikan penghormatan terakhirnya.

23

Nampak jelas, bahwa tak ada satupun dari mereka yang mengetahui caranya melakukan hal ini. Eun Jae yang menjadi panutannya, nampak ragu-ragu tentang apa yang harus dilakukan berikutnya. Hal itu membuat satu-per-satu dari mereka menundukkan kepalanya karena menahan tawa.

24

Bukan hanya mereka, tapi Jin Myung yang memerhatikannya juga tak kuat untuk menahan tawa. Setelah melihat mereka bersujud beberapa saat, ia-pun menyuruh mereka untuk berdiri lagi dan berbicara diluar dengannya.

25

Diluar, mereka meminta maaf atas sikapnya tadi. Jin Myung memahami dan menganggap hal itu bukan masalah besar. Toh, dirinya juga ikut tertawa bersama mereka.

Jin Myung meminta mereka untuk segera pulang, karena ia mengetahui kalau beberapa diantara mereka masih memiliki jadwal kuliah sore ini. Awalnya mereka ingin tetap menemani Jin Myung disini, tapi apa boleh buat? Mungkin dia sedang ingin sendirian saja saat ini.

26

Sebelum pulag, Ji Won bertanya sesuatu pada Jin Myung, “Kejadian yang dilakukan ibumu hari itu.. Jika beliau tidak melakukannya, apakah kamu...”

27

Jin Myung mengangguk, ia menjelaskan kalau dirinya mungkin saja akan melakukan hal tersebut. Ji Won lanjut bertanya, apakah mungkin Jin Myung berfikiran seperti itu karena kebohongan tentang hantu yang diceritakannya?

“Hmmm.. mungkin iyaa..” jawab Jin Myung

Lebih jelasnya, ia mengungkapkan bahwa semenjak Ji Won membahas tentang hantu, ia jadi memikirkan kondisi adiknya ‘bagaimana perasaannya? Bagaimana kondisi roh-nya?’ dan segala hal yang tak pernah difikirkannya sebelumnya.

28

“Terimakasih karena kamu telah menceritakan kebohongan tentang hantu itu kepadaku..” tutur Jin Myung. Ji Won terharu mendengarnya, sebelum pergi ia-pun sempat memeluk Jin Myung terlebih dahulu.

29

================
30

Para gadis menunggu bis di halte. Kejadian yang mereka lewati hari ini, menjadi bahan tertawaan sekaligus renungan. Sadar atau tidak sadar, kini usia mereka semakin bertambah.. Mungkin, lain kali mereka akan semakin sering untuk mengunjungi tempat seperti ini, karena satu-per-satu dari mereka pada akhirnya akan meninggal.

“Cukup.. mengapa kita membahas hal mengerikan seprti ini..” tukas Ji Won

31

Ye Eun menunjukkan ekspresi kegerahan, namun ketika ditanya oleh yang lain ia bersikeras mengatakan kalau dirinya sama sekali tidak kegerahan. Entah apa maksudnya, namun Ye Eun masih belum berubah.. Ia masih menutup-nutupi kesusahannya dari orang lain, hanya ingin terlihat baik dan sempurna dimata rang lain. Yaa.. seperti itulah Ye Eun...

32

Beralih ke rumah duka, ketika Jin Myung memasuki ruangan sudah terlihat ibunya yang tengah duduk dan berdoa didepan persemayaman adiknya. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir mereka, hanya ada tatapan penuh iba yang nampak dari kedua mata mereka..

33

Setelah prosesi kremasi selesai dilaksanakan, Jin Myung berbicara empat mata dengan ibunya. Ia merasa sangat penasaran dan bertanya-tanya, apakah mungkin ibunya melakukan semua hal ini karenanya? Dan mengapa ibunya tak mau menemui pengacara yang telah dikirimkan olehnya?

34

Ibu tak menjawab semuanya secara pasti. Masih dalam raut wajah yang menyimpan sejuta kesedihan, ia malah mengungkapkan kalau sekarang merupakan saat yang tepat untuk menebus segala dosa-dosa besar yang telah dilakukannya, “Kau tahu... aku telah membunuh anakku sendiri, namun aku tak merasakan rasa bersalah sedikipun. Itulah dosa terbesarku saat ini.....”

========================

35

Jin Myung kembali menjalani hidup seperti biasanya. Dengan serius, ia mengerjakan tugasnya diperpustakaan. Kemudian, ia mencari sebuah buku untuk dipelajarinya. Langkahnya terhenti, ketika ia melihat sebuah buku berjudul ‘DEMIAN’

36

Selanjutnya, kita melihat Jin Myung yang tengah bekerja di minimarket.  Tak lama kemudian, muncullah Jae Wan yang secara khusus datang untuk berbicara berdua dengannya.

37

Tanpa basa-basi, Jae Wan bertaya mengapa Jin Myung tak memberitahunya tentang acara pemakaman waktu itu. Jin Myung menjawab kalau dirinya memang tak memberitahu orang lain tentang hal ini.

38

Orang lain? Apakah aku hanya sebatas ‘orang lain’ untukmu?” tanya Jae Wan

Jin Myung kemudian menggenggam tangan Jae Wan, “Maaf... Aku rasa akhir-akhir ini, ada hal aneh yang mengganggu fikiranku..” ungkapnya

39

Jae wan memahami hal tersebut, ia-pun menatap Jin Myung dan menggenggam tangannya erat. Seakan-akan, itu merupakan bentuk perhatian terbesar yang bisa diberikannya pada saat ini.

========================

Para gadis penghuni Belle Epoque tengah melakukan kegiatan bersih-bersih rumah seperti biasanya. Namun, suasana terasa begitu hening karena tak ada satupun dari mereka yang berbicara.

40

Mereka malah asyik sendiri mengeluhkan ini dan itu dalam benaknya saja. Ji Won masih mengkhawatirkan kondisi Eun Jae.

41

Dan Eun Jae sendiri mengkhawatirkan keberlanjutan nasibnya setelah petugas asuransi mengungkapkan kebenaran yang sesuangguh.

42

Yi Na sibuk merenungkan jalan selanjutnya yang harus ia ambil? Apakah terus memaksakan diri untuk berubaha? Ataukah ia harus menyerah dan kemabli pada sirinya yang sebelumnya saja?

43

Jin Myung-pun meresahkan sikapnya akhir-akhir ini. Berduka bukanlah hal yang bisa mengganggu fikirannya terus menerus. Setelah satu-per-satu masalahnya terselesaikan, mungkin sekarang sudah saat yang tepat untuknya melanjutkan hidup dengan cara yang diinginkannya.

44

Ye Eun tak memikirkan dirinya sendiri, ia malah memikirkan masalah yang tengah dihadapi oleh teman-temannya yang lain. Hingga tiba-tiba ponselnya berbunyi, terlihat ada beberapa chat dari temannya yang menanyakan kondisi Ye Eun setelah tragedi penganiayaan yang dialaminya. Namun, Ye Eun tak berkomentar apapun. Ia hanya menghela nafasnya dalam-dalam dan menunjukkan ekspresi lelah..

45

Hingga di meja makan-pun, mereka masih tak mengeluarkan suaranya. Kesulitan dan keluhan, hanya mereka pendam di dalam benaknya masing-masing....

======================
46

Di depan rumah, Eun Jae duduk sendirian dan memperhatikan seekor anjing peliharaan di sebrangnya.

47

Tak lama kemudian, muncullah Ji Won yang nampaknya akan pergi ke suatu tempat. Eun Jae mengajaknya berbicara sebentar, ia bertanya tentang mimpi yang sering diceritakannya waktu itu. Sebuah mimpi, dimana dirinya selalu diselamatkan oleh ayahnya dari kejaran seekor anjing, “Apakah mimpi itu sebuah fakta atau justru kebalikan dari sebuah fakta??” tanyanya

48

Ji Won menatapnya pilu, ia menyadari betapa berat beban yang tengah mengendap didalam fikiran Eun Jae. Ia berusaha menenangkannya dengan mengatakan kalau semuanya akan baik-baik saja. Untuk skenario yang terburuk-pun, Eun Jae tak akan disalahkan karena saat itu ia hanya menukar isi botol minum tanpa mengetahui adakah racun atau obat tidur sekalipun, karena jika memang benar terdapat hal seperti itu berarti yang bersalah adalah ayahnya Eun Jae.

49

Penjelasan Ji Won, justru membuat Eun Jae semakin bersedih. Ketika ia harus mengungkapkan fakta ketidakbersalahannya atas kematian sang ayah maka ia akan membongkar fakta kalau ayahnya merupakan seorang pembunuh. Mengapa? Karena hari dimana kakaknya meninggal, hal yang pertama dilakukan ayahnya adalah mencuci gelas minum kakaknya. Bukankah itu menunjukkan kalau ayahnya telah menarus sesuatu didalam gelas tersebut?

50

Eun Jae tak mau membahasnya lebih lanjut. Ia-pun memilih untuk masuk kedalam rumah. Dan tidak lama kemudian, nenek pemiliki rumah keluar dari ruangan kecil dibelakang tangga.

“Dia berbicara dengan gaya yang terlalu serius..” ujarnya

51

Ji Won terkejut, ia menyadari kalau sedari tadi nenek telah mendengar semua pembicaraan mereka. Seakan-akan semuanya hanyalah lelucon, nenek tak menanggapinya dengan serius dan ia malah lebih asyik menyirami tanamannya.


---------------------

You Might Also Like

0 komentar

Don't forget to tell us what's on your mind ❤❤❤